Pilkada 2006, Awal Retaknya Para Kombatan [4] - ACEHKITA.COM
Connect with us

Pilkada 2006, Awal Retaknya Para Kombatan [4]

Peringatan setahun MoU Helsinki di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, 15 Agustus 2006 | Foto: AW

Bank Data

Pilkada 2006, Awal Retaknya Para Kombatan [4]

Pengantar

Menyongsong Pilkada 2017, para punggawa bekas Gerakan Aceh Merdeka (GAM) saling berebut kuasa untuk memimpin Aceh. Mereka duduk terpisah di lima kursi kandidat dari enam pasangan yang berhak dipilih rakyat pada 15 Februari 2017.

Sebagai gubernur maju lagi Irwandi Yusuf (mantan representatif GAM di AMM), kemudian Muzakir Manaf (mantan Panglima GAM), Zakaria Saman (mantan Menteri Pertahanan GAM), Zaini Abdullah (mantan Menteri Luar Negeri GAM) dan sebagai wakil gubernur ada Sayed Mustafa (mantan Koordinator GAM Barat Selatan Aceh).

Perpecahan yang semakin terbuka, dari manakah mulanya?

Tulisan berikut mungkin bisa menjelaskannya, saya menulisnya akhir Desember 2006 lalu, saat Pilkada 2006 dan yang pertama setelah damai Aceh.

***

Bagian 4

AHAD siang 4 Juni 2006, di Calang Aceh Jaya. Humam Hamid dan Hasbi Abdullah bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) resmi berdeklarasi sebagai calon gubernur. Mereka didukung sebagian GAM, sebut saja kubu tua.

Di kubu lain, kelompok muda menyusun kekuatan. Irwandi Yusuf dan Muhammad Nazar digandengkan guna mencalonkan diri melalui jalur independen, sesuai dengan UU No 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Calon independen silakan bertarung asal didukung oleh tiga persen dari jumlah penduduk. Jumlah penduduk Aceh sekitar 4 juta lebih.

Rahasia umum, dukungan gerakan terbelah dua, bersaing bersama enam calon lainnya. Peta dukungan tak bisa ditarik dalam garis demarkasi. Sejumlah mantan anggota GAM masih bingung akan sikap para pemimpinnya, kala itu. Tak ada yang bisa menebak, kemana suara mengalir sampai pilkada dimulai, 11 Desember 2006.

“Saya akan memilih di Banda Aceh, surat sudah saya ambil dari Bireuen. Saya belum tahu TPS mana, besok aja saya kasih tahu,” jelas Irwandi ketika saya hubungi malam menjelang pilkada, 11 Desember 2006.

Benar saja, pagi itu Irwandi memilih di Banda Aceh, bukan di daerah kelahirannya, Bireuen. “Dulunya pernah tinggal di Kampung Laksana sekitar sembilan tahun,” sebutnya.

Pada pukul 08.30 Wib, Irwandi datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) III, Kampung Laksana, Banda Aceh. Puluhan wartawan memburu kehadirannya. Dia didampingi oleh Muhammad Nazar, wakilnya. Setelah mendaftar lalu mencoblos sambil menebarkan senyum ke warga yang padat.

Setelah Irwandi mencoblos, rombongan mereka langsung menuju ke Desa Lampulo. Muhammad Nazar terdaftar sebegai pemilih di TPS I Lampulo, Banda Aceh.

Irwandi sempat memberikan keterangannya kepada pers. Katanya, kalau ditemukan kecurangan dalam pilkada ada pemantau dan pihak berwenang yang akan menanganinya. “Saya meminta kepada masyarakat untuk tidak main hakim sendiri jika adanya kecurangan.”

Berapa target suara? “Saya tidak pasang target apa-apa,” sebut Irwandi.

Sementara itu, Humam Hamid melakukan pencoblosan di TPS IV Lampineung, Banda Aceh. Wakilnya Hasbi Abdullah, personil GAM yang pernah 13 tahun di penjara melakukan pencoblosan di TPS IV Kampung Laksana, Banda Aceh.

“Saya langsung pulang ke rumah usai pemilihan,” sebut Humam kepada saya.

Hari itu, sebanyak 2.632.935 orang pemilih di seluruh Aceh memberikan suaranya untuk memilih delapan pasang calon gubernur/wakil gubernur Aceh, pada 8.471 TPS di seluruh Aceh. Kemudian ada 19 kabupaten/kota yang akan memilih bupati dan walikota-nya. Hanya masyarakat di Kabupaten Aceh Selatan dan Bireuen yang belum memilih calon bupati.

Jelang sore hari. Irwandi dikalahkan Humam di TPS tempatnya memilih. Irwandi sempat kembali ke sana saat perhitungan suara, “Selamat, Humam menang ditempat saya,” ujarnya kala itu. Sementara Humam menang mutlak di TPS-nya sendiri. Irwandi hanya ada di posisi empat di TPS di TPS IV Kampong Pineung, Banda Aceh.

Malam hari, pukul 20.00 Wib. Lingkaran Survey Indonesia (LSI) mengeluarkan hasil quick count yang dilakukan oleh mereka. Irwandi berada di posisi teratas dibandingkan tujuh calon gubernur lainnya, dengan perolehan suara 39,27 persen. Sementara hasil quick count yang dilakukan LSM Jurdil, Irwandi juga unggul dengan 38,57 persen suara. Humam hanya ada di peringkat kedua.

Perdana Menteri GAM, Malik Mahmud mengatakan, pihaknya akan menerima apa pun hasil pilkada. “Kita terima apa saja yang sudah dipilih oleh rakyat Aceh,” kata Malik Mahmud usai menghadiri acara perpisahan dengan anggota Aceh Monitoring Mission di Meuligoe Gubernur Aceh, Kamis malam, 14 Desember 2006.

Saat menghadiri perpisahan dengan AMM, Malik Mahmud dan Irwandi Yusuf duduk satu meja. Posisi mereka hanya dipisahkan oleh Pj Gubernur Mustafa (duduk dekat Irwandi) dan Menteri Hukum dan HAM Hamid Awaluddin, yang duduk di sebelah Malik.

Usai pertemuan, terlihat Malik dan Irwandi sempat berbicara sebentar. Saat ditanya apakah dia juga menerima jika Irwandi Yusuf-Muhammad Nazar menang dalam Pilkada 11 Desember. “Of course,” jawabnya singkat sambil berlalu meninggalkan wartawan.

Pada 29 Desember 2006, KIP merilis hasil resmi perhitungan suara. Tak jauh berbeda dengan hasil dari quick count sebelumnya. Irwandi Yusuf – Muhammad Nazar ditabalkan sebagai pemenang dengan 38,20 persen suara dengan total pemilih 768.745. Sementara Humam Hamid – Hasbi Abdullah berada di posisi kedua, 16,62 suara (334.484).

Bagaimana hubungan Irwandi dengan kubu tua dan GAM Swedia?

“Yang datang waktu pelantikan saya GAM dari Swedia (PM Malek Mahmud), yang mempeusijuk (upacara ada Aceh) saya, GAM dari Swedia juga. Jadi cukup bukti saja, tak perlu saya jelaskan dengan kata-kata,” sebut Irwandi kepada saya saat wawancara pertengahan Februari 2007 lalu.

Irwandi mengakui dulu sempar timbul perseteruan saat pilkada. “Itu dulu waktu pilkada, sekarang tidak ada lagi masalah. Itulah Aceh. Selesai –masalah- dalam sebuah demokrasi.” [Tamat]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Bank Data

To Top