Connect with us

Rancabali, Catatan Perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru [9]

Laporan Khusus

Rancabali, Catatan Perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru [9]

[vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_column_text]HUJAN mulai turun ketika kami meninggalkan Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi, Jawa Barat, 14 Januari 2015. Tujuan kami selanjutnya adalah masyarakat adat Sedelur Sikep (Samin) di Pati, Jawa Tengah.

Mereka sedang berjuang mempertahankan sumber air di pegunungan Kendeng dan tanah pertaniannya dari ekspansi pabrik semen. Namun sebelumnya, kami memutuskan akan singgah di Yogyakarta, untuk ganti filter lensa kamera dan mengelas tempat dudukan motor saya yang patah saat melalui medan Ciptagelar.

Tapi yang utama, bersama-sama kawan-kawan di Yogya, kami akan meluncurkan film dokumenter ‘Belakang Hotel’ yang digarap secara gotong-royong antara WatchdoC dan para jurnalis atau pegiat sosial.

Film ini bercerita tentang bagaimana sumur-sumur warga di sekeliling hotel, untuk pertama kalinya, mengering saat musim kemarau tahun 2014. Sebuah mural diukir di jembatan Kewek (dekat tempat parkir bus wisata Malioboro), menyambung kampanye di sosial media: Jogja Asat (Jogja Kekeringan).

(‘Belakang Hotel’ https://www.youtube.com/watch?v=mGwS78pMPmU)

Untuk menuju Yogya, kami berencana mengambil jalur selatan. Dari Pelabuhan Ratu, melipir pantai selatan hingga Pangandaran, lalu masuk Cilacap (Jawa Tengah) dan ke Yogya.

Sebagaimana biasa, untuk petunjuk jalan terdekat kami selalu bertanya ke penduduk lokal. Walau dalam perjalanan kami sering mengandalkan Google Map. Pertimbangannya masyarakat selalu update tentang medan dan kondisi jalan.

Celakanya tidak ada jalan lewat pantai selatan yang dapat kami lalui dari Pelabuhan Ratu – Sukabumi – Pengandaran – Yogjakarta. Tak ada jalur lintas selatan seperti yang kami bayangkan dari Malingpng ke Pelabuhan Ratu.

Kami terpaksa memutar ke Sukabumi – Cianjur – Bandung.

Karena harus lewat Bandung, maka kami putuskan untuk tinggal satu-dua hari di sana. Selain memberi kesempatan badan istirahat, juga ganti filter kamera dan perbaiki motor bisa dilakukan di sini.

Tahu kami sedang di kotanya, seorang teman jurnalis dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, yang mengikuti perjalanan kami via media sosial, mengirim link sebuah tulisan, bahwa dia pernah meliput di Rancabali. Yakni sebuah pondok pesantren yang terletak di Kampung Cibural, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung. Jaraknya 50 kilometer sebelah selatan kota Bandung. Pesantren itu mengembangkan agrobisnis ramah lingkungan, menerapkan zero waste (memanfaatkan semua sampah), dan mengembangkan energi alternatif.

Dengan seksama saya dan Dandhy membaca dengan teliti berita soal pondok pasentren itu. Mereka, misalnya, menggunakan pestisida dari bahan nabati yang disebut Ciknabat (cikur nabati) dengan bahan dasar cikur atau kencur, dan bawang putih.

Selain itu, ada Innabat (insektisida nabati) yang terbuat dari kacang, cabai, bawang, temu lawak, dan air. Ada juga Sinabat (sirsak nabati) yang berasal dari biji sirsak dan daun arpuse. Fungsinya mengusir hama jenis serangga tanpa meninggalkan residu (bahan sisa), sekaligus dapat menekan tingginya residu pengaruh pestisida buatan pabrik yang merusak struktur serta sifat biologis tanah.

Cara unik lainnya adalah menciptakan pupuk organik nabati yang dikenal dengan nama MFA (Mikro Fermentasi Alami). Di mana para santrinya diminta untuk mengumpulkan air bekas kumur dalam satu wadah besar. Air bekas kumur itu dicampur dengan kulit pisang serta daun kirinyuh dan dedak, kemudian diaduk dengan sampah dan kotoran sapi atau domba.

Bakteri hasil kumur para santri itu bisa mempercepat proses fermentasi untuk pembusukan sampah. Dari situ bisa didapat pupuk organik yang bisa menyuburkan tanah sekaligus memperbaiki struktur, tekstur, dan sifat biologis tanah dan memperbanyak unsur hara.

Inovasi terakhir yang dikembangkan pesantren ini adalah cara mendaur ulang pembalut wanita. Barang yang satu itu sekian lama menjadi sampah yang tidak bisa diatasi di pondok pesantren. Pada suatu hari, para santri diperintahkan agar tidak lagi membuang pembalut bekas. Mereka harus membersihkan dan mengumpulkannya untuk dijadikan bahan keset.

Terakhir, masih dari artikel yang ditulis Ketua AJI Bandung, Adi Marsiela (Suara Pembaruan), Pesantren Al Ittiqah itu juga menciptakan energi berbahan kotoran ternak (biogas) untuk memasak di lingkungan pesantren.

“Nah, ini sangat menarik, sangat ‘Indonesia Biru’, kita harus liput,” guman Dandhy.

Lalu kami sepakat berbagi tugas. Esok paginya Dandhy akan melanjutkan merapikan liputan di Ciptagelar seraya membuat catatan-catatan. Saya melakukan survei ke Pesantren Al Ittiqah, seraya meminta izin untuk meliput keesokan harinya.

Sebelum tidur, saya mencoba mencari-cari di Google tentang Rancabali. Begitu kata kunci dimasukkan, yang paling banyak keluar adalah informasi tentang hotel murah, rumah atau vila dijual. Juga kebuh teh dan wisata murah.

Hari itu, Jumat, 16 Januari 2015. Sekitar pukul 9 pagi, saya memacu sepeda motor ke Rancabali dari Soreang, Bandung selatan, mengikuti petunjuk arah dari Google Map. Setalah dua jam keluar Soreang, hawa dingin pegunungan mulai menusuk. Kanan kiri jalan yang terus menanjak terlihat hamparan kebun palawija yang ditanami, bawang, cabe, tomat, kol, stroberi dan beragam sayuran lainnya.

Dari papan nama di kantor-kantor pemerintahan saya dapati bahwa saya sudah masuk wilayah Kecamatan Rancabali. Sejak di sini, papan nama hotel dan vila berjamur sepanjang jalan. Saya terus memacu kendaraan, walau hujan mulai tumpah dari langit, dan mesin penunjuk jalan masih menyatakan belum sampai.
Setelah melintasi belantara yang kanan kirinya terdapat sejumlah lokasi wisata dan penginapan, saya tiba di hamparan kebun teh, yang luasnya sejauh mata memandang. Itulah kebun teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII, seluas 1.530 hektar di ketinggian 1.628 meter di atas permukaan laut.

Setelah tiga jam berjalan, saya melihat ke layar telepon bahwa lokasi yang saya tuju tinggal dua kilometer lagi. Sejak itu mata hampir tak pernah lepas dari layar monitor. Begitu tiba, saya tidak mendapati papan nama pesantren yang dimaksud. Hanya ada sebuah masjid dan kantor polisi di sisinya. Bingung, saya bertanya pada pemilik sebuah warung, tapi komunikasi gagal karena ibu penjaga warung itu menjawab dengan bahasa Sunda.

Beruntung seorang pengandara berpeci haji singgah. Dari lelaki paruh baya inilah saya mendapat informasi, bahwa pesentren yang saya tuju sudah tertinggal sekitar delapan kilometer di belakang.

Duh… di sinilah kadang teknologi tak dapat (sepenuhnya) dipercaya.

Dengan kesal saya memutar arah sepeda motor. Sejak dari sini, saya lebih sering bertanya dikala mulai bingung. Saya kembali di tempat yang kiri-kanannya adalah kebun palawija. Dari seorang warga, saya mendapati alamat pesentren yang dituju. Sebuah komplek di lereng bukit, di tengah-tengah perkebunan.

Saya langsung menuju sebuah bangunan kecil di bawah gerbang masuk pesantren, tempat santri piket. Di sana ada sebuah warung di mana tabung elpiji tiga kilogram sedang diturunkan.

Saya menyampaikan niat dan tujuan saya. Lalu diarahkan ke santri yang lebih senior. Saya kembali menyampaikan niat dan kebutuhan liputan kami. Tapi jawabannya di luar dugaan: untuk pertanian, pupuk yang digunakan tidak sepenuhnya lagi bahan nabati, tapi sudah dicampur dengan pupuk kimia.

Begitu juga dengan biogas. Para santri sudah beralih total ke tabung elpiji.

Sarasa tak percaya dengan informasi tersebut, saya kembali memeriksa dan membaca link berita yang dikirim teman dari Bandung. Setelah dilihat, ternyata tulisan itu di-posting pertengahan tahun 2010.

“Kalau dulu mungkin iya, seperti Akang maksud,” kata santri itu.

Sangat disayangkan, padahal pengelola pesantren ini pernah dianugerahi Kalpataru oleh Presiden Megawati pada tahun 2003. Sebuah penghargaan tertinggi atas jasanya menjaga lingkungan, dengan modal pestisida dan pupuk nabati, biogas, serta proses daur ulang sampah.

Setelah bicara panjang lebar, saya pamit sembari berjanji akan mengkomunikasikan dengan Dandhy, sebelum memutuskan untuk mendokumentasikan kegiatan di pesantren tersebut.

Setelah berembuk, kami putuskan urung meliput. Kami kembali ke rute semula: Sedulur Sikep di pegunungan Kendeng. [BERSAMBUNG]

SUPARTA ARZ | DANDHY D. LAKSONO | EKSPEDISI INDONESIA BIRU

[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top