Connect with us

Restart Indonesia

Kolom

Restart Indonesia

BERSAMAAN dengan bom Kampung Melayu yang gambar potongan tubuh korbannya disebarluaskan, beredar video barisan anak-anak meneriakkan yel-yel “bunuh” di media sosial.

Padahal rangkaian kabar kebrutalan geng motor yang menyasar korban secara acak, belum reda. Ibu-ibu di sekitar Jatiwaringin sedang resah membahas ancaman aksi balasan geng dari daerah lain yang beredar dari gadget ke gadget. Pasalnya, akhir pekan lalu telah jatuh korban usai bentrokan. Faktanya, korban bukan dari keduabelah pihak yang diserang maupun penyerang. Hanya seorang pemuda malang yang salah waktu dan tempat.

Tapi keresehan soal geng motor kadung jadi teror baru. Bahkan tak sedikit yang bertepuk tangan ketika beredar video tentara mencambuki seorang pria telanjang yang katanya anggota geng motor. Faktanya, ia pencopet di sebuah stasiun di Depok.

Kita sudah berada pada fase yang percaya bahwa tak ada cara lain untuk melenyapkan teror dan kekerasan kecuali memakai kekerasan. Kalau perlu kekerasan yang lebih hebat dan daya terornya lebih besar.

Seperti saat gerombolan tentara bersenjata lengkap membobol penjara Cebongan dan membantai tahanan yang sedang menjalani proses hukum.

“Biar kapok!” kata para pendukung kekerasan.

Benarkah?

Indonesia di bawah Soeharto sudah pernah mencoba resep teror seperti ini lewat operasi gelap yang disebut “petrus” alias penembak misterius. Kaum kriminal (kelas teri) dibunuhi tanpa proses pengadilan. Hasilnya, kriminalitas reda sementara dan muncul lagi dengan lebih terorganisasi dan memakai beking.

Kita juga pernah hidup di era di mana maling motor dibakar hidup-hidup oleh warga. Apakah lantas ranmor menjadi punah?

Tidak. Metode itu memancing munculnya tingkat kekerasan baru dalam ranmor yang kini kita sebut begal. Mereka berkelompok, main bacok, dan bersenjata api.

Di beberapa tempat di Jawa Timur, kelompok pencuri ternak bahkan memakai bom dengan nama “bondet” sebagai senjata pamungkas menghalau massa yang hendak menghakimi mereka jika tertangkap.

Karena para kriminal sadar risiko bahwa ia mungkin tak akan sampai di pengadilan alias mati di tempat jika tertangkap, maka kasus-kasus pencurian di rumah-rumah pun selalu berakhir dengan pembunuhan untuk menghilangkan saksi atau risiko.

Kekerasan adalah rahim kekerasan baru. Tak pandang bulu siapa yang lebih dahulu memulainya.

Dan itulah proses yang kita hadapi sekarang dengan teror-teror bom yang diduga mengincar polisi sebagai buntut operasi-operasi “war on teror” yang juga banyak melibatkan kekerasan extra-judicial.

19 tahun lalu, di awal reformasi, ada slogan “Potong Satu Generasi” untuk me-restart Indonesia yang putus asa karena generasi tuanya korup dan inkompeten. Kini kita mendapati anak-anak berbaris sambil berteriak “bunuh” dan para remajanya mencari identitas di geng-geng motor. Lalu usia koruptor yang dijerat KPK juga semakin muda dengan angka jarahan yang makin fantastis.

Kita harus restart Indonesia dari mana?

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom

To Top