Connect with us

Rifle Reports: Satu Kisah tentang Kemerdekaan

Rifle Reports

Resensi

Rifle Reports: Satu Kisah tentang Kemerdekaan

Apa arti kemerdekaan bagi orang Indonesia? Meski negara telah berupaya menyeragamkan cara kita memaknainya, misalnya lewat perayaan 17 Agustus dan pelajaran sejarah di sekolah, kemerdekaan tetap satu hal yang subjektif. Sedari awal, kemerdekaan seperti halnya nasionalisme adalah proses menuju capaian komunal yang dibangun atas himpunan kualitas personal. Ia tak seragam. Buku Rifle Reports: a Story of Indonesian Independence yang ditulis oleh Mary Steedly adalah satu kisah kemerdekaan dari dan bagi orang-orang yang berada di tepian negeri. Tepian dalam arti lokasi dan posisi mereka dari pusat kekuasaan. Tepian yang menjadi jarak, dan tragisnya mengaburkan peran langsung mereka dari jalinan sejarah berdirinya republik ini.

Buku ini adalah etnografi sejarah yang mengambil lokasi di pedalaman Tanah Karo, kawasan yang sering luput dari narasi besar kemerdekaan Indonesia (dan, lantas luput dari pembangunan). Para narasumber di buku ini, dari usia mereka, sejatinya merupakan generasi pejuang kemerdekaan terakhir yang masih hidup. Mary Steedly, profesor bidang antropologi di Universitas Harvard, dengan tekun menghimpun dan merunutkan ingatan dari generasi terakhir yang ketika mereka tak ada lagi maka yang mungkin tersisa bagi kita hanyalah sejarah perang kemerdekaan, bukan lagi kisah dari zaman perang kemerdekaan.

Rifle Reports adalah kisah dari zaman revolusi Indonesia yang berkutat dalam rentang waktu krusial, antara proklamasi 1945 dan perjanjian Renville di awal tahun 1948. Dua sejarah perang kemerdekaan melatarbelakangi. Pertama proklamasi 17 Agustus 1945 yang gemanya tidak sampai pada hari yang sama ke seluruh pelosok Indonesia. Di Medan, perlu satu bulan lebih bagi para tokohnya untuk mengumumkan kepada publik bahwa proklamasi kemerdekaan telah dibaca oleh Soekarno-Hatta di Jakarta. Kedua, perang yang berlanjut sporadik dengan kembalinya Belanda yang membonceng sekutu dan berujung pengungsian besar-besaran dari dataran tinggi Tanah Karo. Sebagai peristiwa kedua hal tersebut telah menjadi objek studi sejarah dan politik, sementara dalam Rifle Reports keduanya adalah latar yang menuntun ingatan personal dan membagi jalinan kisah.

Keterangan buku

Judul: Rifle Reports: a Story of Indonesian Independence
Penulis: Mary Margaret Steedly
Penerbit: University of California Press
Cetakan Pertama: Tahun 2013
Ketebalan: 414 Halaman

Narasi besar tidak menampung kisah bahwa hari-hari pertama Indonesia menyatakan diri sebagai negara berdaulat menjelma hari-hari yang gamang bagi rakyatnya. Soekarno dalam tulisan dan pidatonya yang termasyhur telah menyerukan pentingnya kemerdekaan sebagai “jembatan emas”, frasa yang indah dan mengundang tepuk sorak namun tidak dapat tidak jembatan emas tetaplah metafor yang bermakna harap-cemas. Tidak ada yang tahu apa yang menanti di ujung sebelah jembatan. Rifle Reports mengungkap hal tersebut tidak terkecuali bagi masyarakat di pedalaman Tanah Karo, yang seperti siapapun yang hidup di tubir lain gugus tanah air, sedang dalam proses membayangkan satu bangsa dan rela berbagi satu kedaulatan dengan saudara-saudara yang tak mereka kenal sebelumnya. Proses ini dalam telaah ilmuwan politik seperti Ben Anderson termasuk dalam cikal bakal terwujudnya nasionalisme Indonesia.

Mary Steedly adalah etnografer yang membekal kemampuan mendengar dan keahlian bertutur seorang tukang cerita ulung. Narasi, irama dan detail dalam buku ini mengalir dengan plot yang mengikuti memori para informan yang kebanyakan adalah perempuan. Mereka adalah penjaga utama ingatan. Bab demi bab kemudian mengantar kita tentang pengalaman dan peran para perempuan dari Tanah Karo di awal-awal kemerdekaan. Mary kebanyakan mengenal mereka sejak ia masih berstatus mahasiswi dan memulai penelitian di Tanah Karo di awal tahun 80-an (studi yang menghasilkan karya pertamanya berjudul Hanging without a Rope). Mereka para perempuan yang dalam rentang 1945 hingga 1948 dulunya adalah para “gadis pemberani”, yang ikut maju ke garis depan dan menjadi korban. Partisipasi mereka tidak pernah mendapatkan pengakuan dan tempat terhormat selayaknya peran para pejuang laki-laki.

Frasa Rifle Reports sendiri merupakan terjemahan dari syair Batak Erkata Bedil, sebuah syair yang menjelaskan bahwa baik laki-laki dan perempuan memiliki kontribusi dalam perjuangan. Peran yang tidak sama, namun sama pentingnya. Melalui Rifle Reports, Mary menawarkan lensa baru yang melampaui bahu para sarjana sebelumnya yang dominan meneliti sejarah revolusi Indonesia sebagai sejarah perang militer dan tentu saja mengikuti cara pandang arus utama bahwa perang adalah sesuatu yang sangat maskulin. Cara pandang yang dengan sendirinya mereduksi peran perempuan dalam masa-masa kritis. Rifle Reports sebaliknya memberi posisi yang patut, istimewa jika kata ini tidak terkesan berlebihan, dan pengakuan atas partisipasi para perempuan Karo dari hari-hari pertama republik ini merdeka, mencatat bagaimana upaya mereka membayangkan Indonesia dan berlanjut mencintainya hingga hari tua meski sebagai negara Indonesia ini tidak pernah benar-benar hadir di sana.

Revolusi Indonesia diakui sebagai gerakan nasional paling sukes di Asia setelah Perang Dunia II. Keberhasilan melepaskan diri dari kolonialisme dan menyatakan kesatuan Indonesia meski dengan para motor penggerak yang berbeda suku, agama dan bahasa menjadikan revolusi 1945 unik dan punya tempat istimewa dalam studi tentang revolusi, nasionalisme, dan formasi negara baru. Meskipun begitu, buku Rifle Reports mengindikasikan bahwa bagi orang Indonesia sendiri, terutama setelah tahun 1965, kata “revolusi” (dalam buku ditulis sebagai repolusi, sesuai pelafalan orang Batak) telah berubah penggunaan dan pemaknaannya. Mary Steedly sendiri dalam memberi judul bukunya memilih menggunakan kata independence dibanding revolution karena kata pertama memiliki tautan dengan kecenderungan para narasumber utamanya yang memilih kata “perjuangan” untuk padanan kisah kemerdekaan, dibanding menyebut kata repolusi. Kata tersebut telah berasosiasi “negatif” sejak penyebutannya di Zaman Orde Baru mengacu pada ancaman komunisme serta konflik sosial yang bergejolak dan mengambil banyak korban sepeninggal kolonial. Para pembaca jeli sejarah kontemporer Indonesia meyakini perubahan pemaknaan kata revolusi berbanding lurus dengan proyek hegemoni Orde Baru dalam mendikte publik tentang siapa pemeran utama perjuangan kemerdekaan, narasi bagaimana kemerdekaan diraih, bagaimana kemerdekaan harus dikenang dan kepada siapa rakyat harus berterimakasih. Proyek yang berhasil mengantar kelompok militer sebagai penyandang status warga kelas satu di negara ini.

Kenyataan terakhir yang miris ini mestinya menjadikan Rifle Reports sebagai bacaan yang menggugah bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah satu proses manusiawi yang tak melulu heroik dan berdarah-darah. Kemerdekaan yang sudah berusia 72 tahun kini tercapai karena partisipasi rakyat yang menyeluruh, melibatkan angan, doa, luka, air mata, nyanyian, pidato, meja perundingan hingga nyawa yang diberikan oleh mereka yang menganggap diri nasionalis, komunis atau agamis. Meminjam ujaran Chairil Anwar, semuanya harus dicatat dan semua harus memperoleh tempat yang adil dalam bingkai sejarah. []

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Resensi

To Top