Connect with us

Rindu Dalam Sepotong Lontong

KOLOM KUPI SANGER

Rindu Dalam Sepotong Lontong

Saya bukan seorang ahli masak atau pakar kuliner yang jago dalam mengolah beragam jenis makanan. Tapi, setidaknya saya sedikit tahu tentang lontong dan proses pembuatannya. Lontong tidak bisa berdiri sendiri. Makanan berbalut kulit pisang dari beras itu “wajib” dilengkapi oleh kuah sayur lodeh. Proses membuat lontong butuh waktu tidak singkat, karena beras di dalam bungkusan daun pisang itu harus menyatu, padat agar mudah dipotong, namun memiliki tekstur lembut saat masuk mulut.

Pengetahuan saya tentang dunia “perlontongan” sebagian besar saya dapatkan ketika memperhatikan mamak atau ibu saya membuat lontong, pada malam menjelang hari raya. Sejak kecil, saya sering membantu beliau terlibat dalam “proyek lontong”. Tapi, saya tidak pernah diberi kesempatan untuk mengambil peran penting ketika memasukkan beras ke dalam daun pisang yang telah rekat oleh lidi kelapa. Hingga saat ini saya belum bisa memecahkan misteri alasan mamak tidak memberikan kuasa kepada saya dalam urusan lontong. Makanan ini sering dijumpai beberapa daerah di Aceh sebagai makanan utama selain nasi di saat hari raya. Beberapa tempat lain, punya model yang hampir sama dengan nama ketupat.

Sambil menanti proses transformasi beras menjadi lontong, kuah dalam bentuk sayur lodeh juga harus dipersiapkan. Beragam bumbu dipersiapkan, sayuran seperti wortel, papaya, dipotong dalam ukuran kecil. Saya juga tidak mendapatkan akses untuk mempelajari resep kuah lontong yang menurut saya kuah lontong paling top markotop di jagad raya itu.

Jangan lupa aksesoris pendukung lain yang membuat lontong menjadi kaya rasa, seperti tauco dengan udang kecil, kacang kedelai halus, rendang, ditutup oleh kerupuk berwarna merah putih. Kerupuk merah putih seakan melambangkan bahwa lontong memang masakan nusantara dan lontong sayur seakan menjadi representasi dari keberagaman suku, ras, agama, warna kulit orang Indonesia. Orang Italia boleh saya punya pizza, tapi kita orang Aceh patut berbangga karena lontong, pikir saya.

Ingatan saya akan lontong dan dinamikanya menjelang lebaran tervisualisasikan kembali, saat melihat Nyak Neh, panggilan akrab kepada ibu Cek Pan. Wanita yang kira-kira berusia menjelang 70 tahun itu terlihat masih cekatan saat meramu berbagai bumbu kuah lontong, melipat daun pisang sebagai persiapan menyambut hari kemenangan.

Kedekatan saya dengan Cek Pan membuat saya sudah dianggap seperti keluarga. Saya begitu menikmati saat-saat ibunda Cek Pan mempersiapkan segala sesuatu menjelang lebaran, apalagi untuk urusan lontong ini. Seakan saya melihat wajah ibu sendiri, memperhatikan jemari tangannya yang lincah membungkus satu persatu lontong. Suatu pengalaman yang tak mungkin terulang lagi.

Ibu dan ayah atau orangtua adalah alasan penting mengapa kita bersedia berjuang untuk menemuinya, terkhusus pada momen seperti hari raya. Walaupun terkadang saya tidak habis pikir kepada orang-orang yang masih mempunyai orang tua, tapi tidak mau pulang untuk meminta maaf kepada mereka, oleh karena alasan-alasan sepele.

Keharusan untuk pulang saat lebaran mengingatkan pada pengalaman menjelang lebaran tahun 2004. Aceh saat itu belum aman, masih berada dalam status darurat sipil. Walaupun pihak penguasa mengklaim penurunan status yang pada tahun 2003 bernama darurat militer, namun Aceh masih belum aman, konflik bersenjata masih berlangsung.

Didorong oleh kerinduan yang begitu kuat, saya dan almarhum Fakhrurradzie MG, seorang sahabat yang juga jurnalis memutuskan untuk mudik. Saat itu kami bertugas di Jakarta, mengoperasikan media daring www.acehkita.com yang pada era itu boleh dibilang sebagai satu di antara sedikit yang memberitakan perang Aceh secara objektif. Liputannya sering bikin penguasa gerah. Banyak jurnalis atau kontributor menggunakan nama samaran saat menulis berita, agar tetap aman di lapangan.

Kata Radzie, panggilan akrabnya, andai aparat keamanan mengendus kepulangan kami, bisa jadi hal-hal yang tidak diharapkan akan terjadi. Karena keterbatasan budget, kami harus menempuh jalur kombinasi. Jakarta-Medan menggunakan pesawat terbang, lalu diteruskan ke Banda Aceh menggunakan bus. Kami sadar konsekuensi menempuh jalur hemat tapi nekad itu, tapi kerinduan bertemu orangtua dan keluarga menjadi modal kekuatan besar. Di satu sisi kami pasrah, di sisi lain kami punya tekad kuat yang diiringi doa. Sehari semalam perjalanan darat ada banyak cerita dan kisah tercurah. Alhamdulillah kami berhasil mudik dengan selamat. Tahun lalu, sang sahabat mendahului saya, kawan-kawan dan keluarganya, ia menghadap Sang Maha Pencipta di usia muda.

Baiklah, kita kembali ke dinamika lontong. Walaupun tidak semua orang menyukai lontong sayur, tapi saya yakin dan percaya mereka punya ikatan kuat melalui makanan yang dibuat oleh orang tua. Saya sering mencemburui mereka yang masih memiliki ayah dan ibu lengkap, atau salah satunya. Orang tua bagi saya adalah alasan untuk kita pulang. Saya kagum dan menaruh hormat pada mereka yang memperlakukan orang tuanya dengan baik, layaknya orang tua menyayangi si anak di masa kecil. Walaupun saya tidak punya kesempatan untuk melakukan itu semua, saya hanya bisa bersyukur melihat Cek Pan yang begitu baik menjaga ibu kandungnya, Nyak Neh.

Entah kenapa akhirnya saya tersadar, rindu yang terbesar itu bukanlah karena nikmatnya rasa lontong, karena lontong dengan rasa apa saja dapat dibeli di warung makan. Namun yang tak mampu dibeli adalah rindu pada orang “jemari” orang yang membuatnya, woman behind the lontong, yaitu sosok ibu. Tak ketinggalan bapak atau ayah yang telah membeli dan menyediakan kebutuhan produksi lontong yang berasal dari hasil kerja kerasnya.

Jika dulu orang tua selalu mendoakan dan memberikan yang terbaik bagi kita, maka saat mereka telah tiada tugas kita adalah selalu mendoakan ayah dan ibu agar mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT. Amiin ya Rabb.

Seulamat Uroe Raya. Mohon maaf lahir dan batin.[]

Fahmi Yunus adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, peneliti pada ICAIOS dan CENTRIEFP, Banda Aceh. E-mail: fahmiyunus@gmail.com

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

  • KOLOM KUPI SANGER

    Neo-Aceh Pungo

    By

    Dulu, seakan ada kebanggaan saat orang menyebut Aceh Pungo (gila). Istilah Aceh Pungo yang menurut sejarah...

  • KOLOM KUPI SANGER

    Kaya Tapi Miskin

    By

    Saya tidak tahu tahu nama lengkapnya, tapi panggilannya adalah Bang Do. Dia pelanggan setia Warkop Cek...

  • KOLOM KUPI SANGER

    Otonomi Usus Buntu

    By

    Gus Dur, Presiden Indonesia keempat, saat hidupnya pernah bilang bahwa anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) seperti...

  • KOLOM KUPI SANGER

    ‘Main Pesawat-Pesawatan Yok’

    By

    Bagi Anda yang sedang membaca tulisan ini pasti pernah mengalami masa kanak-kanak. Saya jamin 99% masa...

  • KOLOM KUPI SANGER

    Sedikit-Sedikit KEK, Ke Rakyat Kok Cuma Sedikit?

    By

    Jika dimasukkan dalam kategori pengusaha, maka Cek Pan boleh dibilang pengusaha warung kopi pada level usaha...

  • KOLOM KUPI SANGER

    …And Justice for Aceh…

    By

    Tahun 1993 grup musik cadas Metallica mampir dan menggelar konser perdana di Indonesia. Saat itu grup...

  • KOLOM KUPI SANGER

    Menuju Nanggroe Gagal

    By

    Sambil mengaduk-aduk kuah beulangong yang menjadi menu utama kenduri buka puasa bersama di masjid, Cek Pan...

  • KOLOM KUPI SANGER

    Dilema Pemilik Warkop

    By

    Memasuki minggu kedua Ramadhan, terjadi migrasi dalam jumlah yang signifikan para jamaah masjid menjadi “jamaah” warung...

  • KOLOM KUPI SANGER

    Malam-Malam Indah Ramadhan

    By

    Kenangan masa kecil paling indah di bulan puasa adalah saat menjalani malam-malamnya. Ketika SD tiap malam...

  • KOLOM KUPI SANGER

    Bersuka Cita Ketika Puasa

    By

    Salah satu tanda-tanda sederhana menjelang bulan puasa adalah makin maraknya iklan produk-produk konsumsi seperti makanan ringan,...

To Top