Connect with us

Sanger untuk Raja Salman

Kolom

Sanger untuk Raja Salman

Walaupun sudah berusia kepala empat, Cek Pan belum pernah naik pesawat. Sore itu, di tengah keasyikan saya menikmati sanger di warungnya, tiba-tiba ia mengeluarkan satu amplop putih yang berisi uang dari kantongnya. Karena tidak direkatkan, saya sempat melirik beberapa lembar uang seratus ribu dalam amplop itu. Sambil mendorong amplop itu mendekati saya, Cek Pan berkata: “Tolong beliin saya tiket ke Bali!”

Saya yang sedari tadi menikmati salah satu nikmat Allah dalam bentuk sanger sambil baca koran, mau tak mau harus menghentikan aktifitas itu sambil bertanya ke Cek Pan, “Peue na urosan droe di Bali. Gaya that lagoe.

“Saya mau jumpai Raja Salman. Agendanya, pertama saya mau protes. Kedua mau minta uang.”

Beberapa hari ini, banyak media yang memberitakan kedatangan Raja Salman dari Arab Saudi ke Indonesia. Ini dicatat sebagai kunjungan kepala negara paling kolosal sepanjang sejarah bangsa ini karena membawa rombongan hingga 1.500 orang, termasuk para menteri dan pangeran. Setelah ke ibukota Jakarta, Raja Salman direncanakan mengunjungi Pulau Dewata, Bali.

Jeh, bukannya senang, kok malah protes. Trus, minta uang untuk apa?”

Saya mulai “geli” dengan rencana kawan satu ini.

Cek Pan membetulkan posisi duduknya. Ia mulai serius dan berargumen.

Lon protes, pakon Yang Mulia Raja Salman, hana dijak keunoe u Aceh. Kenapa dia justru memilih Bali daripada Aceh? Aceh kan daerah syariat, kenapa beliau gak masukkan daerah kita dalam agendanya? Kayaknya pemerintah kita juga lagi sibuk dengan urusan pilkada, makanya gak sempat undang Raja Salman ke Aceh.”

Lheuh nyan, lon deungo dari haba keudee kupi, Raja Arab bawa uang banyak, mau bagi-bagi uang dan kasih modal. Jadi saya mau tawarkan saham warkop ini, supaya bisa expand.

Bergegas saya tuntaskan secangkir sanger, butuh energi dan nutrisi yang cukup untuk merespon argumen Cek Pan.

Betoi, Raja Salman mau berinvestasi di Indonesia. Betul mereka ‘bawa’ uang banyak. Tapi, sebenarnya negara Arab itu juga sedang mengalami masalah ekonomi. Perekonomian dalam negeri sedang tidak menggembirakan.”

Pendapatan paling besar negara ini berasal dari minyak bumi, sementara harga minyak dunia sedang anjlok, akibatnya pendapatan negara ikut melorot. Masalahnya tak berhenti di situ. Angka pengangguran semakin meningkat, subsidi semakin besar, serta defisit yang menunjukkan angka yang tidak menggembirakan.

“Sama seperti negara kita, Arab Saudi juga sedang butuh dana segar dan besar.”

Indonesia bukan hanya satu-satunya negara yang dikunjungi Raja Salman dalam misi “marketing” ini. Sebelum ke Indonesia, mereka sempat singgah di Malaysia. Nantinya beberapa negara penting di Asia Pasifik, seperti Jepang dan China juga masuk dalam jadwal.

Menurut beberapa laporan, kedua negara ini awalnya adalah negara konsumen minyak bumi terbesar yang berasal dari Arab Saudi. Namun kini China mulai mengurangi impor minyak bumi dari tanah Arab. Perlahan-lahan Rusia mulai mengambil “lapak” Arab Saudi. Belum lagi Amerika Serikat yang mulai meramaikan pasar minyak dunia dengan memasok shale oil yang harganya lebih rendah dibandingkan minyak biasa.

Redupnya kejayaan industri minyak bumi kini sedang dicari jalan keluar. Maka pihak kerajaan menyusun kerangka reformasi ekonomi yang dikenal dengan Visi Saudi 2030. Salah satu agenda penting adalah program transformasi strategi Aramco atau penjualan saham perusahaan minyak milik pemerintah ke publik yang dipatok senilai 2 triliun dolar Amerika Serikat. Walaupun di kalangan analis dan calon investor masih meragukan besaran nilai tersebut, yang menurut mereka justru lebih kecil.

Cek Pan manggut-manggut, tapi ia tak paham kenapa Raja Salman hanya mengunjungi Bali, bukannya ke Aceh. Menurut beberapa media, raja dan rombongan akan menghabiskan waktu lebih lama di Bali untuk liburan.

“Bali selain sudah lama terkenal sebagai destinasi wisata terbaik. Mereka punya fasilitas terbaik, seperti hotel-hotel mewah untuk menampung rombongan raja. Lagipula, kalo ke Aceh, sedang asik-asiknya berlibur, eeh…tiba-tiba mati lampu. Kiban nyan?”

Cek Pan tersenyum, sambil secara perlahan menarik amplop berisi uang yang sempat disodorkannya kepada saya.

Seharusnya, pelajaran penting dari kunjungan ini adalah strategi mereka dalam mengantisipasi berakhirnya era kejayaan minyak bumi. Sebelum tahun 2030, mereka sudah gencar mencari potensi sumber fulus untuk mendanai negaranya. Walaupun mereka punya “pasar” tetap umat Islam yang menunaikan ibadah haji sebagai sumber devisa. Ditambah makin maraknya tren golongan kelas menengah di Indonesia yang melakukan umrah. Kita, umat Islam di Indonesia adalah pasar terbesar dan objek penting bagi industri produk-produk khusus muslim seperti fashion islami, makanan halal, hingga haji dan umrah.

“Otoritas di Aceh, seharusnya juga bisa mencari jalan keluar pendanaan saat berakhirnya alokasi dana otonomi khusus tahun 2027 nanti. Mungkin strategi pemerintah tanyoe, sep ta pula bak janeng mantong.”

Kami tertawa bersama. Saya pesan lagi segelas sanger. Sepertinya diskusi tentang kunjungan Raja Salman membuat sanger buatan Cek Pan terasa beda.

Sambil menyodorkan secangkir sanger tambahan, Cek Pan berujar: “Kalo Raja Salman ke Aceh, saya akan ajak dia ke warkop ini. Saya bikin sanger terenak untuknya sambil mengajak raja supaya mau tanam investasi di warkop kecil ini.”

Beutoi. Mantap nyan,” saya mengacungkan dua jempol ke arah Cek Pan.

Lagi-lagi kami tertawa bersama. Sambil melihat meja sebelah kami yang juga tertawa, tapi entah tentang apa tawa mereka.[]

*Banda Aceh, 4 Maret 2017

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom

To Top