Connect with us

SASTRA | Puisi-puisi Shiti Maghfira

Berita

SASTRA | Puisi-puisi Shiti Maghfira

Senyum Ayah
Dan orang yang menungganginya
bernama maut
maukah dia ku lemparkan pada sebuah
tangkai bunga, dimana
kan ku jadikan sepotong bambu yang
menepi pada dahan
barulah di tengah jalan semaunya
tanpa angin, sekali saja
untuk dirgantara pelangi
[Banda Aceh, 10 September 2012]

Kutuk Leuseur
Kau masih saja bertanya-tanya
tentang serigala yang menggilas nafas-nafas
tentang perawan cantik yang merinding,
merintih
tentang gelap
padahal masih begini terang
pertanda kita belum jua berteman

Kau masih saja bertanya-tanya
kala senja hilang temaram
tentang bulan parau menghujat bukit-bukit
padahal bebintang masih saja menamainya
hijau

Kau masih saja bertanya-tanya kala siang
menyilangkan tangan
tangannya atas rumah-rumah kita
atas tanah-tanah kita
tentang merah padam di atas sana
tentang embun yang masih memutih
sedang kuak fajar belum lagi merekah
dan pepohonan masih nyenyak tidur dalam
mimpi

Siapakah yang mesti dipercaya lagi?
indah pun telah berkhianat pada tanah kita
ialah rimba yang mampu tersenyum dalam
sesak
belum jua mencabik pelosok desa-desa
karena ia sudah bertahun-tahun diperkosa
para penghulu
yang katanya penuh janji tentang
memeluk rimba tanah Tangse

Setelah tangismu tak lebih derita dari
gemuruh langit yang membelukar alam
jeritmu tak lebih perih dari belantara yang
semakin tercabik, tersiksa
oleh chainsaw yang menggelegar di tiap sudut
kejutkan duduk manismu, mengangkang di
puncak, hadap langit penuh iba

Orang-orang bersumpah untuk kesekian kalinya
dalam diam membantu yang mereka hina

Tak perlu kau mengemis ria di depan senyum-senyum sinis itu
karena tak ada artinya lagi
tanah lenyap jadi lumpur
bercampur tangis dan darah juga kita
rerumahan ditelan gelondongan kayu yang
tak tahu apa-apa perihal ini

Cukupkan sedihmu pada rimba Tangse
berhentilah membuatnya begitu tersakiti
dan kau masih saja tak berhenti bertanya
tentang siapa yang gelisah
aku tetap saja tak bisa menjawab
kecuali Leuseur yang dijadikan tempat singgahan

Kini Tangse merintih dalam pedih
mengutuk jiwa-jiwa dalam diam membatu
Leuseur mengutuk orang-orang serapah yang serakah dalam bersumpah.

Leuseur Curse

You still have to ask
about wolves that run over the breaths
about a beautiful virgin who creeps,
groan
of dark
but still so bright
nevertheless we do not both friends

You still have to ask
when the sunset lost twilight
about hoarse month of blaspheming the hills
but the stars still named
green

You still ask when the day
cross your arms
hand over our homes
on our lands
of red up there
about the dew who still on white
was not yet dawn broke moo
and the trees are still sleeping soundly in the
dream

Who should be trusted again?
the beautiful also have betrayed the land of our
is the jungle that capable of smiling in
crowded
yet nevertheless tore remote villages
because it was raping many years
of the prince
which he says is full of promise
To keep the jungle land of Tangse

After the tears no more pain than
sky rumble that become scrub the natural
the screams no more sore than wilderness
increasingly torn, tormented
by senso blaring in every corner
surprise your sweety sitting, astride the
peak, against the sky full of compassion

People vowed for the umpteenth time
in silence helping their abject

You do not need beg for fun
in front of that cynical smile
because it means nothing anymore
lost ground so muddy
blood mixed with tears and we also
the houses swallowed wooden spindles
do not know anything about this

Enough your sad for the jungle of Tangse
stop making so hurt
and you still can not stop asking
about who is anxious
I still can not answer
except Leuseur that to be stop by the place

Now Leuseur groaning in pain
condemned souls in stony silence
Leuseur curse those who curse swear greedy.

[Banda Aceh, March 11, 2012]

SHITI MAGHFIRA, Siswi SMA 3 Banda Aceh. Ia Pegiat di Komunitas Jeuneurob

Continue Reading
Baca juga...
2 Comments

2 Comments

  1. aneuk ubit

    Nov 21, 2012 at 9:59 pm

    jdul ma isi gk nyambung kale. gk lyak juara!

  2. Muslihat

    Oct 31, 2012 at 11:10 pm

    Salam aja buat yg buat puisinya. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Berita

To Top