Connect with us

Sekolah, Berubahlah!

KOLOM KUPI SANGER

Sekolah, Berubahlah!

Tidak ada angin, hujan, apalagi badai, pagi-pagi Cek Pan melempar satu statement yang bikin saya gerah. Seolah-olah dia ingin mengajak saya berkelahi. Dia bilang begini, “Satu-satunya tujuan kita sekolah adalah supaya bisa bikin acara reuni.”

Jlebb. Seakan-akan sebuah tinju upper-cut sedang menghujam ulu hati. Begitu beraninya dia sampaikan itu kepada saya – yang dia sangat tahu – seorang akademisi, alias seorang pendidik bin pengajar. Apa pasal dia seorang pemilik warung kopi yang hanya lulusan SMA berani-beraninya masuk ke domain intelektual yang dihuni para pendidik.

Ia lalu menambahkan, “Meunyoe cuma keu mita keurija, tak perlulah kita sekolah tinggi-tinggi.”

Bukan tanpa alasan ia berkata demikian. Cek Pan bercerita, beberapa hari lalu sempat memakai jasa transportasi online yang baru hadir di Kota Banda Aceh. Hanya dengan mengunduh aplikasinya, isi deposit, lalu pesan pengendaranya, jalan. Harganyapun lebih murah dari jasa transportasi yang sudah lama beroperasi, seperti becak atau taksi.

Yang ingin diceritakan kepada saya adalah, ia sempat mendapatkan pengendara sepeda motor atau ojek online yang berstatus mahasiswa pada salah satu kampus negeri di Aceh. Alasan mahasiswa tersebut adalah untuk menambah uang saku dan mengisi waktu daripada nongkrong di warkop. Pengendara lain yang ditemuinya adalah seorang sarjana yang baru saja lulus dari kampus, tempat saya mengajar. Alasannya, walaupun punya gelar sarjana, saat ini sangat susah mencari pekerjaan. Daripada menganggur lebih baik bekerja menjadi pengendara ojek online. Apalagi pendapatannya bisa setara atau melebihi gaji seorang pegawai negeri sebulan, tergantung giat atau tidaknya mencari pelanggan.

Sementara bagi mereka yang punya keahlian tertentu bisa mencari uang hanya dengan ‘nongkrong’ di depan layar komputer. Ada banyak kisah para blogger yang bisa hidup dan meraup uang banyak dengan menulis di blog dan aktif di media sosial. Beberapa mereka memang menyandang status mahasiswa. Status yang bagi generasi muda agar orang tuanya tidak malu saat ditanya anaknya sekolah atau kuliah di mana.

Saya kenal seorang mahasiswi yang punya keahlian membuat inai bagi calon pengantin wanita. Dia sempat menjumpai saya, minta saran untuk non-aktif kuliah. Bukan karena tiada biaya, tapi ia kesulitan mengatur waktu antara kuliah dan orderan dari orang yang ingin menggunakan jasanya. Saat ia sampaikan rata-rata penghasilannya dari melukis inai di tangan dan kaki calon pengantin dalam sebulan, saya sarankan ia tak perlu kuliah lagi. Lanjutkan saja profesinya, bekerja secara profesional dan serius. Selama ini, ia gencar mempromosikan jasanya melalui seperti media sosial Instagram, dengan jumlah follower hampir mencapai 20 ribuan. Oya, dalam sebulan ia bisa membawa pulang belasan juta rupiah dari bisnis kreatif ini.

Cek Pan juga cerita, beberapa hari lalu mesin kopinya sempat rusak. Untuk memperbaikinya perlu mendatangkan teknisi ahli atau mengirimkan ke dealernya di Jakarta yang kedua-duanya butuh ongkos mahal plus waktunya lama. Atas saran seorang kawan, Cek Pan mencari info di laman Youtube tentang tutorial atau teknik dan cara memperbaiki mesin kopi. Alhasil, dalam waktu kurang dari dua jam mesin kopi di Warkop Cek Pan bisa beroperasi lagi dengan menghadirkan kopi dengan cita rasa terbaik.

“Jadi, keupeu teuma tajak sikula. Tinggal download, pelajari, ikuti, lalu jadi.”

Bercerita tentang pekerjaan, ingatan saya melayang pada salah satu laporan yang memaparkan tingginya angka pengangguran terbuka di Aceh yang mencapai angka 7,93 persen. Tidak hanya Aceh, menurut laporan The World Economic Forum, bulan Januari tahun lalu, peningkatan angka pengangguran di Asia mengalami peningkatan di tengah semakin meningkatnya kecanggihan teknologi, sementara pengetahuan dan keahlian yang diperolah di sekolah tidak memadai, menghasilkan tingginya angka pengangguran dan ketidakpuasan kerja.

Teknologi informasi seperti Youtube yang Cek Pan ceritakan juga menawarkan ‘sekolah’ alternatif yang kaya informasi, bervariasi dan murah pastinya. Misalnya, dengan mudah saya bisa mendapati materi perkuliahan dari kampus-kampus rangking atas dunia. Saya sendiri juga kerap belajar lagi, berguru secara online pada kampus top seperti MIT hanya bermodalkan laptop dan jaringan internet.

Saya mengambil dua kesimpulan dari cerita Cek Pan tentang peranan sekolah atau institusi pendidikan. Pertama, tentang realitas di masyarakat akan tingginya angka pengangguran. Kedua, adanya ruang dan peluang kerja baru di era revolusi industri keempat ini. Saat ini kita menghadapi lansekap industri dan profesi yang tidak tidak pernah kita dengar sepuluh atau lima tahun lalu. Bahkan, (walaupun tidak patut dicontoh) berita hoax, kabar bohong sekalipun bisa dikapitalisir dan menghasilkan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Baru-baru ini polisi berhasil membongkar sindikat Saracen yang diduga sebagai dalang dalam penyebaran berita bohong dan bernuansa SARA.

Lembaga pendidikan sebenarnya masih diharapkan sebagai jawaban dari segala dinamika saat ini. Namun, pola-pola lama yang dianut hingga sumber daya manusia di dalamnya harus berani berubah dan berbenah. Para pakar pendidikan menyarankan agar kurikulum di sekolah atau perguruan tinggi harus mampu beradaptasi dengan permintaan pasar dan keahlian yang dibutuhkan.

Alih-alih kerap mencekoki dengan dogma-dogma, para akademisi perlu mengajak mahasiswanya untuk mampu berfikir kritis dan kreatif. Di samping itu, kemahiran digital menggunakan perangkat lunak dan keras juga harus dimiliki tidak hanya oleh siswa terutama oleh guru atau pendidik. Dunia digital dan teknologi kini hadir dengan berbagai variannya mulai virtual reality, bio dan nano teknologi hingga virtual reality menjadi suatu keniscayaan. Walaupun dikhawatirkan akan memicu masalah dalam kehidupan sosial manusia, seperti virtual reality, namun teknologi ini diperkirakan akan menjadi tren baru dunia digital.

“Siapa tahu, suatu saat nanti kita tidak butuh warung kopi. Cukup menggunakan alat yang menggunakan teknologi virtual reality, kita cukup duduk di rumah tapi serasa di warkop. Suatu saat warkop nyata seperti milik Cek Pan terpaksa harus tutup, diganti oleh warkop virtual.”

Melihat Cek Pan melongo, kali ini saya merasa telah berhasil melakukan serangan balik, upper-cut, ke ulu hati Cek Pan.[]

Fahmi Yunus adalah pengajar pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, UIN Ar-Raniry, peneliti pada ICAIOS dan CENTRIEFP, Banda Aceh. E-mail: fahmiyunus@gmail.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top