Connect with us

Kolom Fakhrurradzie Gade

Sepatu Pribumi

Sepatu Pribumi

Saiful Mahdi*

Berada di lingkungan PNS, baik di kampus tempat saya bekerja maupun di lingkungan pemerintah daerah, saya sering kagum dengan aneka sepatu yang dipakai pegawai negeri.  Termasuk yang paling mengagumkan adalah sepatu para asisten/ajudan pimpinan, tenaga kontrak/honor/bakti.

Umumnya sepatu pegawai kantoran adalah sepatu kulit mengkilat. Pegawai perempuan seringkali memakai sepatu berhak bahkan tak kurang yang ber-high heels. Sepatu “kantoran” inipun seringkali dipakai saat kerja lapangan.

Selain kagum, saya kadang minder saat tak bisa mencegah diri saya membandingkan sepatu saya dengan sepatu para pegawai itu. Pertama, jelas sekali sepatu saya selalu ketinggalan mode. Out of date. Saat mode sepatu mengecil dan meruncing ke depan, sepatu saya masih lebar dan datar bagian depannya.

Pada saat saya baru beli sepasang sepatu mengecil di bagian depan, saya melihat sepatu para pegawai itu selain mengecil dan meruncing, bagian depannya kini makin terangkat-melengkung ke atas. Mirip sepatu Alibaba dalam kisah 1001 malam.

Kedua, saya sangat yakin harga sepatu saya lebih murah dari sepatu kebanyakan para pegawai itu. Saya percaya hukum pasar berlaku: Model terbaru pasti lebih mahal dari model lama.

***

Lama belajar di Amerika, saya melihat juga aneka sepatu yang dipakai orang kampus dan pegawai negara bagian atau pegawai federalnya negeri Paman Sam itu. Walaupun tak kalah modis, orang Amerika saya pikir sangat rasional dalam memilih sepatu yang dipakainya. Sepatu orang Amerika sangat fungsional. Mereka bisa punya banyak pasang sepatu sesuai fungsinya masing-masing. Sepatu untuk jogging berbeda dengan sepatu untuk tracking. Tapi sepatu kets tetap favorit chik-putik tuha-muda di sana.

Profesor sering pakai sepatu kets di kampus. Penampilan resmi dalam balutan suit dengan dasi kupu-kupu dan sepatu kulit mengkilat adalah kejadian langka dan karena itu istimewa. Sepatu orang Amerika sangat informal karena gaya hidup mereka yang informal.

Meskipun budaya Jepang lebih formal, pilihan sepatu para insan kampus di Negeri Matahari Terbit ini juga sangat fungsional. Banyak profesor nya yang lebih sering dengan sepatu kets walaupun selalu punya sepatu kulit resmi di kantor atau mobilnya.

Karena itu, saya selalu kagum dengan formalitas ketimbang fungsionalitasnya sepatu pilihan para dosen dan pegawai di Indonesia.

***

Bagi saya, sepatu itu harus nyaman dipakai. Karena itu saya tak terlalu peduli dengan modelnya. Asal nyaman, sepatu buat saya tidak harus mahal atau harus mengikuti mode tertentu.

Nyaman untuk apa? Nyaman untuk melakukan aktivitas sehari-hari saya. Karena banyak kegiatan saya di kampus adalah mengajar, artinya berdiri dan berjalan mondar-mandir di kelas, maka sepatu saya harus nyaman untuk mengajar.

Tapi sepatu adalah bagian satu kesatuan dengan pakaian yang lainnya. Baju dan celana akan mendikte jenis sepatu bukan?

Hmmm….apa karena itu banyak pegawai memakai sepatu kulit mengkilat? Karena bajunya “formal” ala PSH, pakaian sipil harian?

Anggapan sepatu kerja “kantoran” harus sepatu kulit nan mengkilat entah datang darimana. Mungkin warisan para ambtenaar Belanda yang suka merintah-merintah pribumi?

Dari Presiden Jokowi sampai Bill Gates, dari Mark Zukenberg sampai Dahlan Iskan suka pakai sepatu kets dalam banyak kesempatan formal maupun informal.  Lantas kenapa banyak kita yang masih dijajah sepatu kulit model terbaru yang tidak nyaman itu?

Agar kita tidak harus banyak bergerak? Agar kita tidak harus banyak kerja secara fisik? Agar kita tidak bisa naik angkutan umum? Agar kita bisa terus bergaya ambtenaar.

Jadi pribuminya siapa dong?

*Saiful Mahdi adalah peneliti pada Pusat Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial dan Budaya (PPISB) Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Email: saiful.mahdi@unsyiah.ac.id

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

To Top