Sepenggal Kenangan tentang Ishak Daud

0
6614

Saat itu awal tahun 2003.

Kami pulang dari sebuah acara di kawasan Chow Kit Malaysia menuju Kajang. Di tengah perjalanan, kami mendapat telepon.

Suara di seberang sana marah-marah. Terlihat Teungku Taher yang akrab disapa Tengku Raya Panyang berargumen dengan orang yang menelepon. Sesudah setengah jam, telepon terputus.

Salah seorang anggota majelis Gerakan Aceh Merdeka di Malaysia itu menarik nafas panjang.

Saya tanya, kenapa Tengku?

Tengku Raya Panyang menjawab, “barusan Ishak Daud menelepon, dia marah-marah. Kenapa kedai-kedai orang Aceh lain dimintai sumbangan untuk perjuangan, kenapa kedai dia tidak diminta”.

Memang saat itu di Malaysia, majelis di sana meminta sumbangan dari kedai-kedai runcit milik orang Aceh untuk membantu perjuangan dan mengobati orang sakit.

“Terus saya sampaikan bahwa kamu Ishak, sudah dalam seueh prang, sedang di lapangan di dalam barisan perang. Kamu sudah menyerahkan tenaga, dan jiwa raga untuk perjuangan, masak kami harus ambil lagi sumbangan dari kedai kamu di Malaysia?”, demikian kata Tengku.

Ishak marah-marah kata Tengku. Dia pulang, berperang, itu tanggung jawab dia. Namun, sebagai pemilik kedai, dia juga mempunyai kewajiban yang sama seperti pemilik kedai lain. Tidak boleh ada beda.

“Ishak Daud memang seorang yang bertanggung jawab, sejak dulu, asal ada rapat-rapat untuk mengumpulkan sumbangan, dia selalu terdepan,” tambah Tengku lagi.

Saya terpaku mendengar cerita Tengku tentang isi percakapan telepon. Sungguh suatu hal yang sangat luar biasa, seseorang pulang ke Aceh di tengah konflik, memimpin dan ikut bertempur di lapangan, berkorban lahir dan batin demi perjuangan, namun masih merasa bertanggung jawab untuk menyumbang, sebagaimana orang lain menyumbang.

Itulah Ishak Daud, salah satu bintang bersinar di dalam sejarah perjuangan Aceh. Almarhum syahid dalam sebuah penyergapan di Aceh Timur pada tanggal 8 September 2004.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raajiun. Semoga Allah melimpahkan kepada almarhum assyahid pahala dan ganjaran berlipat ganda. []

MUNAWAR LIZA ZAINAL, Mantan Deputi Juru Bicara GAM/ASNLF, berdomisili di Aceh Besar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.