Connect with us

Seupet , Wafel Khas Aceh

Kuliner

Seupet , Wafel Khas Aceh

Ctuk ctuk ctuk. Bunyi sendok beradu dengan pinggiran wadah plastik ketika Nuridah mengaduk tepung gandum, gula pasir, mentega dan telur dengan cepat, saat adonan tercampur rata ia menuangkan santan sedikit demi sedikit sambil terus mengocok sampai sedikit kental terakhir ia menambahkan vanili untuk membuat lebih harum.

Ia bangun jam tiga pagi setiap harinya di bulan ramadhan untuk menyelesaikan adonan tersebut. Tangan-tangannya sudah terbiasa mencampur setiap bahan setiap tahap diingat dengan baik. Resep turun-temurun ini sudah dipraktekannya selama tiga puluh tahun.

Ibu tiga orang anak ini selalu mendapat pesanan untuk membuat kue seupet menjelang hari raya baik Idul Fitri maupun Idul Adha. Ia bahkan terus membuat penganan khas Aceh ini meski cara membuatnya sudah banyak ditinggalkan oleh banyak orang.

“Banyak orang yang sekarang membuatnya dengan menggunakan menggorengnya dengan minyak dikompor,”ungkap Nuridah atau yang biasa disapa cek dah ini. “Katanya kalau pakai tapeh kurang praktis dan lebih capek,” sambungnya.

Tapeh adalah kulit luar dari kelapa yang kemudian dijemur sampai kering. Ia memerlukan dua karungnya setiap hari untuk membuat dua kilo kue. Nama kue ini diambil karena proses memasaknya yang mengharuskan adonan dijepit diantara cetakan lalu dibakar di atas tapeh yang ditata sedemikian rupa untuk membuat adonan matang merata. Seupet dalam bahasa Indonesia adaah jepit.

Pemesanan kue ini dilakukan jauh sebelum Ramadhan datang Cek Dah seringkali harus menolak jika pesanan datang menjelang hari raya. Ia mulai membuat kue jam enam selepas subuh dan baru selesai menjelang pukul sepuluh pagi setiap harinya dibulan puasa. Setiap hari ia membuat tak lebih dari dua kilo adonan.

“Nggak bisa kalau banyak sekali, karena didepan api terus menurus belum lagi ditambah asap membuat mata perih dan panas,”kata warga Lampuuk kecamatan Darussalam ini. Ada kalanya ketika angin kencang datang ia harus berhenti sebentar karena banyaknya asap. “Kalau nggak percaya duduk aja barang lima menit di depan sini, peulom miseu na angen bilah teuh mata (apa lagi jika ada angin perih dan kabur mata),”katanya sambil tersenyum.

Kudapan ini biasanya dibuat dengan dua bentuk yaitu kipas dan pipa kecil atau beberapa orang menyebutnya dengan semprong. Rasanya gurih, manis dan renyah persis seperti wafel. “Kalau dibakar ada rasa seugam yang tidak dapat kalau dibuat dengan kompor,” tutur Tiara Ulfa. Seugam adalah rasa asap atau arang yang membuat wangi dan rasa lebih enak. Tiara atau biasa dipanggil Tara adalah anak Cek dah yang membantu mengulung dan melipat seupet. “Selesai dari pangangan harus terus dilipat agar tidak keras, karena kalau sudah rapuh sudah tidak bisa lagi,”sambung Tara lagi sambil terus melipat.

Tara sendiri lebih senang menggulung dari pada melipat. Karena dengan menggulung tidak membuat tangannya terlalu panas. Ujung-ujung jarinya sudah membentuk kembung kecil, nantinya kalau sudah sangat sakit ia memasang plaster.

Cek dah menerima pesanan dalam beberapa order, untuk pembeli yang membawa sendiri bahan kue mereka satu kilogramnya dihargai enam puluh ribu rupiah sedangkan yang tidak satu kilogramnya dijual 90 ribu rupiah. Selama Ramadhan ia membuat lebih dari 40 kilogram seupet dibantu dua anaknya Rima dan Tara. Rima sesekali mengganti posisi sang ibu sebagai koki.

Satu sendok adonan dimasukkan kedalam cetakan lalu dijepit, tak lama kemudian sudah ada di atas bara. Cek dah membalik dan sesekali membukanya untuk melihat apakah adonan sudah terbakar rata tak lama kemudian tangannya cekatan merapikan kelebihan adonan di pinggir cetakan dengan pisau kecil membuka dan mengambil serta memberikanya pada tara untuk dilipat. Sang anak melipatnya dengan cepat dan menjepitnya sebentar agar kue terjepit dengan baik dan tidak membentuk celah setelah jadi.

Masing masing cetakan memiliki motif yang berbeda sehingga satu toples kue bisa beraneka ragam bunga. cetakan dari besi itu sudah menghitam tanda bahwa sudah sangat sering dipakai. Nuraidah yang mendapatkanya dari sang ibu ini membersihkanya setiap hari setelah dipakai agar tidak karatan. Cetakan dengan bentuk bulat dengan pengangan panjang ini sudah susah didapatkan dipasaran. Ia sendiri memiliki delapan cetakan yang tersisa.

Tempat membuat seupet ada dibelakang dapur rumahnya yang dibuat untuk menghalangi terlalu banyak angin, dikelilingi berkarung kulit kelapa kering yang didapatnya dari para tetangga yang selesai memanen kelapa dan dikumpulkan berbulan sebelumnya. Ia membuat pemanggang sederhana alas cetakannya dan mempermudah untuk memasukan tapeh.

Ada beberapa varian seupet yang dibuat cek dah berdasarkan pesanan, selain rasa original ada mocca, Coklat, Vanila dan tambahan wijen. Kue yang sudah selesai dimasukan kedalam kaleng atau plastik besar sebelum diambil. Cookies enak dinikmati dengan cara dicelup kedalam teh atau kopi.

Walaupun sudah membuat seupet sejak lama namun Rima maupun Tara belum berkeinginan meneruskan usaha sang ibu. “Anak anak sekarang semuanya mau yang praktis,”kata Cek Dah disambut tawa Tara. “Kalau ibu melihat anaknya tidak susah seperti dirinya sudah sangat bahagia mereka boleh jadi apa saja asal baik dan bertanggung jawab.”

Dulu ia dibawa sama nenek untuk berjualan dipasar karena belum banyak yang memesan dan para pembuat kue ini masih ramai. Setiap minggu mereka pergi untuk berjualan. “dari hasil berjualan itu kami punya jajan untuk membeli baju baru saat hari raya”kenangnya. Nuraidah mulai membuat seupet setelah rajin melihat neneknya dan punya keinginan mendapatkan uang tambahan. Ia memulai membakar wafel ini sejak sebelum menikah dan terus membuatnya hingga sekarang.

Ada kalanya saat lebaran tiba, semua tobles sudah terisi beragam kue kering namun dirumah Cek Dah tidak ada seupet di sana, kue tradisional yang ada hanya Bada Reuteu. “Ternyata setelah membuatnya sebulan penuh tidak ada yang tersisa,”cerita Rima. “Terlalu capek membuat untuk orang lupa buat sendiri.” Ia pun tertawa. []

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kuliner

To Top