Connect with us

Strategi (Bisnis) Baru

Kolom Fakhrurradzie Gade

Strategi (Bisnis) Baru

Strategi (Bisnis) Baru

Saiful Mahdi*

Iklan apa yang paling banyak muncul di TV, koran, majalah, sosial media, billboard maupun baliho dan spanduk di kota Anda? Iklan makanan dan minuman jadi/kemasan terutama mi instan, rokok, kenderaan bermotor, aneka gawai (gadget)? Pernahkah kita bertanya kenapa?

Walaupun kelihatan berbeda, produk-produk tersebut mempunyai ciri yang sama. Semuanya adalah produk konsumtif dan berasal dari luar negeri atau, paling tidak, dari luar wilayah domisili kita, alias produk impor yang tidak kita produksi sendiri. Ciri yang lain, kebanyakan produk makanan dan minuman jadi, rokok, dan kenderaan bermotor berasal dari hanya tak lebih dari lima perusahaan yang dimiliki oleh 10 orang terkaya di Indonesia.

Apa yang salah? Ini memang ciri kehidupan “modern”, “urban”, dan “maju” bukan? Toh, semuanya atas dasar hukum pasar, hukum demand dan supply yang “fair”? Barang yang banyak diminta, akan banyak ditawarkan.

Memang, data BPS untuk Aceh sampai Maret 2015, misalnya, menunjukkan belanja per kapita per bulan tertinggi di Aceh berturut-turut adalah (1) makanan dan minuman jadi/kemasan; (2) padi-padian/beras, dan ;(3) rokok. Dan urutan ini berlaku di wilayah urban-perkotaan maupun rural-pedesaan.

Data ini memang menunjukkan pola belanja dan konsumsi yang sangat tidak sehat dan budaya konsumtif yang makin menguat. Makanan dan minuman kemasan umumnya kalah baik dan kalah sehat dengan makanan dan minuman alami, apalagi organik. Juga, makanan dan minuman jadi umumnya tidak diproduksi di Aceh sehingga dapat dipastikan semuanya didatangkan dari luar.

Tapi masyarakat memang memilih begitu? Memang lebih suka makanan dan minuman jadi? Orang Aceh juga perokok yang sangat berat, termasuk konsumen rokok terbesar per batang per orang per hari. “Dan itu semua adalah pilihan bebas mereka sendiri,” mungkin argumen para produsen produk-produk tidak sehat lagi tak menyehatkan ini. Bahkan banyak ulama sudah jelas-jelas menfatwakan rokok dan merokok itu haram.

Tapi apakah memang pilihan produk, terutama produk konsumsi, sepenuhnya dipilih secara merdeka oleh konsumen?

Iklan yang mengkondisikan

Hampir semua anak dan remaja, bahkan orang dewasa, yang melihat iklan mi instan di televisi sedikit banyak akan terpengaruh dengan bagaimana makanan yang sejatinya hanya untuk dikonsumsi saat darurat ini di-branding menjadi produk yang demikian memikat. Iklannya bagus, bintang iklannya terkenal, semuanya cantik-menawan atau tampan-rupawan.

Anak saya yang masih kecil suka sekali dengan aneka iklan mi instan dan makanan-minuman jadi ini. Dan hampir setiap melihat iklan itu ada keinginan mengkonsumsi yang diutarakan atau paling tidak terlihat dari wajah imutnya. Untung ibunya bersikukuh dengan aturan yang tegas: itu makanan darurat yang paling banyak hanya boleh kita konsumsi sekali dalam tiga bulan. Biasanya sambil si Ibu mengutarakan sejumlah hasil penelitian yang menyatakan berapa lama produk instan non-alami mampu dieksresi tubuh manusia. Walaupun masih kecil, karena terbiasa diajak reasoning, si bungsu menerima aturan itu. Entah karena paham atau hanya karena belum bisa buat sendiri.

Iklan mi instan dan rokok, menurut pengamatan saya, adalah salah dua iklan yang sangat agresif dan mahal. Iklan dibuat demikian memikat sehingga sangat membantu mengkondisikan masyarakat, bahkan mengelabui banyak orang, sehingga percaya akan baiknya dan keren-nya produk itu atau paling tidak melupakan dampak buruknya. Ini yang dinamakan pengkondisian (conditioning).

Karena iklan yang demikian agresif dan intrusif, penanyangan yang terus berulang membuat banyak warga masyarakat yang terpedaya dan akhirnya percaya bahwa makan mi instan itu perkasa seperti gagah-perkasanya seorang bintang iklan laki-laki memperagakan cara memasak dan menikmati sebuah produk mi instan. Sampai-sampai sumpit di tangannya dikesankan seperti samurai yang merajang bawang dengan tangkas!  Atau keren seperti bintang iklan muda yang lain yang mendapat energi untuk main basket dan setumpuk aktivitasnya dengan hebat dari konsumsi mi instan! Atau, seperti bintang iklan perempuan terkenal yang memperagakan sebuah produk mi instan varian baru yang lagunya mudah diingat anak-anak.

Iklan produk rokok di televisi memang hanya boleh tayang setelah agak larut dengan harapan anak-anak sudah pada tidur. Tapi iklan-iklannya juga demikian memikat, sebagian cukup kreatif, dan pasti sangat mahal untuk memproduksinya. Ditambah dengan media iklan di luar televisi, terutama di tempat terbuka umum, dipastikan conditioning untuk memunculkan keinginan membeli dan mengkonsumsi, atau paling tidak memberikan kesan positif pada konsumen, makin berhasil.

Belakangan, conditioning produk makanan-minuman jadi dan rokok di Indonesia semakin manipulatif. Kalau pemakaian aktris dan aktor terkenal dipercaya bisa membujuk masyarakat awam, maka kalangan kampus dibujuk dengan aneka beasiswa dan dana riset. Paling tidak sudah ada dua perusahaan rokok merek terkenal yang program beasiswanya telah dianggap wajar dan diterima di banyak kampus. Iklannya juga keren-keren. Program beasiswanya juga dianggap “bagus”. Sementara perusahaan produk makanan-minuman jadi paling besar di Indonesia pun sudah merambah kampus dengan tawaran beasiswa dan dana riset buat para insan yang dianggap cerdik cedikia di kampus-kampus itu.

Inilah “strategi bisnis baru”. Strategi yang sangat manipulatif!

*Saiful Mahdi adalah salah satu pendiri dan peneliti Aceh Institute dan ICAIOS; Fulbright Scholar yang mengajar Statistika di Program Studi Statistika, FMIPA, Unsyiah.

Menulis “Kolom Fakhrurradzie Gade” di AcehKita.com setiap Kamis. Isi tulisan adalah pandangan pribadi Email: saiful.mahdi@acehresearch.org

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Sepatu Pribumi

    By

    Sepatu Pribumi Saiful Mahdi* Berada di lingkungan PNS, baik di kampus tempat saya bekerja maupun di...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Pembangunan sektoral yang memiskinkan

    By

    Pembangunan sektoral yang memiskinkan Saiful Mahdi* Banyak ahli, terutama ekonom, bicara tentang angka-angka kemiskinan. Tapi masalah...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Merokok Haram! Titik!

    By

    Merokok Haram! Titik! Saiful Mahdi* Saya termasuk yan paling senang dengan perhatian pada masalah rokok dan...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Matematika & Pendidikan Karakter

    By

    Matematika & Pendidikan Karakter Saiful Mahdi*   Seorang professor bidang Fisika yang cukup terkenal menyampaikan kegeramannya...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Iqra dan Media Sosial

    By

    Iqra dan Media Sosial Saiful Mahdi* Belakangan, makin banyak teman yang memutuskan untuk berhenti membuka aplikasi...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Singklet Gaki

    By

    Singklet Gaki Saiful Mahdi* Sejak menjelang pelantikan Gubernur/Kepala Pemerintahan  Aceh yang baru, beredar luas di berbagai...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (3)

    By

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (3) Saiful Mahdi* Tahun kedua di US, Ramadhan dan Idul Fitri...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (2)

    By

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (2) Saiful Mahdi* Hingga saat ini kami masih suka terharu dalam...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Kenangan Idul Fitri di Amerika (1)

    By

    Setiap menjelang Idul Fitri, kita sering terkenang dengan Idul Fitri-Idul Fitri terindah dalam hidup kita. Selain...

  • Kolom Fakhrurradzie Gade

    Jak Meudagang

    By

    Jak Meudagang Saiful Mahdi* Sikap inklusif dan terbuka atau eksklusif dan tertutup adalah cara kita memandang...

To Top