Connect with us

“Street Punk Banda Aceh” Undang Kagum di London

FOTO DOKUMEN ACEHKITA

Aceh

“Street Punk Banda Aceh” Undang Kagum di London

LONDON | ACEHKITA.COM – Film dokumenter “Street Punk! Banda Aceh,” karya jurnalis Maria Bakkalapulo dan pasangan produsernya Niall Macaulay berhasil mengundang rasa kagum para penikmat film Indonesia di London, Inggris.

Film itu ditayangkan dalam Festival Film Indonesia dengan tema, “Films of The Archipelago,” yang diadakan di Deptford Cinema, bioskop berbasis komunitas di wilayah Tenggara London, dari 4 hingga 26 Maret 2017.

“Filmnya sangat menarik dan tidak dapat dibayangkan ada sekelompok anak remaja dengan gaya Barat di Aceh yang budaya sangat ketat,” ujar Grabiella, seorang gadis Inggris kepada Antara, usai menonton film “Street Punk! Banda Aceh,” Senin malam.

Film “Street Punk Banda Aceh” menceritakan kisah kehidupan anak remaja di Banda Aceh yang tergabung dalam komunitas punk yang sangat populer di negara Barat, tumbuh 11 tahun lalu, setelah terjadinya gempa bumi bawah laut besar memicu tsunami di Samudera Hindia, yang menewaskan lebih dari 170.000 orang di Aceh. 

Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Inggris dan Irlandia, Rizal Sukma, menyampaikan pujiannya atas penyelenggaraan “Films of the Archipelago” di Deptford Cinema yang dapat mempromosikan kekayaan budaya dan keunikan kehidupan sosial Indonesia kepada masyarakat Inggris. 

Menurut dia, film merupakan salah satu medium efektif dalam pelaksanaan diplomasi budaya Indonesia di Inggris, yang dapat mempererat hubungan antarwarga diantara kedua negara

Sementara itu, Lenah Susianty, penggagas festival tersebut bersama Paul Flanders mengatakan film Indonesia belum banyak dikenal di Inggris.

Hal ini disebabkan tak adanya hubungan dengan perusahaan pendistribusi film di Inggris. Hanya beberapa film saja yang bisa masuk ke bioskop umum di Inggris, seperti “The Raid” yang disutradarai Gareth Evans.

Dengan digelarnya “Films of The Archipelago,” diharapkan bisa menjadi uji coba untuk melihat animo penonton.

“Saya merasa senang dengan animo penonton, yang cukup banyak sebagian besar orang Inggris, sasaran kami memang itu. Selain itu film Indonesia sudah saatnya dikenal di luar karena banyak yang bagus,” ujar Lenah yang lama menetap di London dan bekerja sebagai penerjemah. 

Film Indonesia lain yang diputar selama festival selain “Street Punk Banda Aceh”, sebelumnya “Jilbab Selfie”, juga ada film “Jalanan”, “Maryam”, “Lovely Man”, serta film laga “Headshot”, dan “Pintu Terlarang”. Harga tiketnya adalah sebesar lima poundsterling.[]

ANTARA

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Aceh

To Top