Survei: 66,6 Persen Ulama Aceh Menerima Konsep Negara Bangsa

0
941
Survei: 66,6 Persen Ulama Aceh Menerima Konsep Negara Bangsa
Peneliti melakukan foto bersama seusai seminar hasil survei Persepsi Ulama terhadap Negara Bangsa. (Foto: Dok. Panitia)

BANDA ACEH | ACEHKITA.COM – Sejumlah peneliti Pusat Pengkajian Islam Demokrasi dan Perdamaian (PusPIDeP), Pascasarjana UIN Yogyakarta dan PPIM UIN Jakarta pada Sabtu (8/12/2018) di Banda Aceh memaparkan hasil survei Persepsi Ulama terhadap Negara Bangsa yang telah dilaksanakan di 15 kota di seluruh Indonesia.

Seminar yang diberi tajuk “Ulama, Politik dan Narasi Kebangsaan: Fragmentasi dan Kontestasi Otoritas Keagamaan di Indonesia”, para peneliti nasional itu menggandeng Program Studi Sosiologi Agama UIN Ar-Raniry sebagai penyelanggara seminar.

Bertindak sebagai pemapar hasil survei yang dilaksanakan di Kota Banda Aceh, Moch. Nur Ichwan PhD menjelaskan bahwa sebenarnya banyak hal yang melatari cara pandang ulama Aceh tentang negara bangsa, seperti kejayaan masa lalu Aceh, konflik dan semangat etnonasionalisme, situasi pos-konflik dan pos-tsunami Aceh, penerapan syariat Islam, urbanitas di Banda Aceh serta wacana-wacara di tingkat nasional.

“Cukup membanggakan menurut peneliti, bahwa sebesar 66,6 persen ulama di Kota Banda Aceh menerima tentang konsep negara bangsa.,” ujarnya.

Secara detil, Ichwan merincikan, dari 66.6 % tersebut ada 10% yang memandang konsep negara bangsa secara inklusif. Sementara ulama yang berpandangan moderat terkait isu tersebut ada 33.3%, dan yang cenderung konservatif (tidak eksklusif, masih pro kepada pemerintahan dan anti terhadap kekerasan) ada sebesar 23.3%.

Kendati demikian, lanjut Nur Ichwan, perlu diperhatikan juga bahwa ulama di Kota Banda Aceh yang menolak konsep Negara Bangsa juga tidak sedikit, yaitu 23.3%. Ichwan membagi kelompok ini menjadi dua yakni yang berpandangan eksklusif 13.3% dan yang berpandangan radikal sebesar 10%.

Survei tersebut, menurut Nur Ichwan, telah mempertimbangkan keterwakilan semua elemen ulama di Kota Banda Aceh, seperti ulama yang berafiliasi kepada salah satu atau beberapa dayah, keterkaitan dengan majelis ta’lim, organisasi sosial, gerakan keagamaan, juga perguruan tinggi Islam.

Ichwan juga memasukkan kategori “ulama milenial” yang mendiseminasikan ajaran Islam di internet dan media sosial baru.

Hadir pada seminar tersebut pakar sejarah keislaman dari UIN Jakarta, Fuad Jabali Ph.D. Secara tegas Fuad berkeinginan bahwa ulama atau tokoh-tokoh di Aceh dapat menjadi orang yang berdiri di poros tengah dalam mencermati persoalan kebangsaan. Berdiri di tengah menurut Fuad bukanlah dengan posisi yang kaku, tapi elastis bergeser ke titik-titik yang seimbang.

Reza Idria, salah seorang pembahas yang dipilih dari cendekiawan muda Aceh, juga turut memberikan kupasan kritis terhadap peran ulama dan situasi sosial Aceh. Reza dalam tanggapannya menyampaikan bahwa dalam menghadapi berbagai problem kebangsaan saat ini, ulama Aceh kontemporar sudah selayaknya berperan sebagai penjaga narasi keutuhan bangsa, penerus narasi kebangsaan yang memang sudah sejak awal diperjuangkan oleh pendahulu mereka di hari-hari pertama berdirinya republik ini.

Sayangnya, sebut Reza, jika mengacu pada hasil survey Nur Ichwan dkk maka terlihat ada pergeseran di kalangan ulama Kota Banda Aceh dalam menjaga komitmen tersebut.

Dalam keterangan tertulis kepada Redaksi Acehkita.com disebutkan, seminar setengah hari itu juga diramaikan oleh dua pemapar hasil survei, yaitu Sunarwoto Ph.D dengan hasil survei yang dilakukan di Pontianak, serta Ahmad Rafiq Ph.D yang sama-sama dari Pascasarjana UIN Yogyakarta yang memaparkan hasil dari Banjarmasin.

Diskusi yang dimoderasi oleh Dr. Phil. Munirul Ikhwan itu memperlihatkan adanya sejumlah kesamaan antara kota-kota lain dengan Kota Banda Aceh, terutama bagaimana sosok ulama masih menjadi tumpuan harapan kehidupan pengetahuan di tengah masyarakat, dan untuk menyuarakan paham kebangsaan dengan kuat.

Para peneliti berharap agar hasil survei yang didukung oleh UNDP tersebut dapat menjadi pegangan banyak pihak dalam menatap lebih jauh semangat kebangsaan sembari memperkuatnya.

Seminar yang dihadiri oleh seratusan lebih kaum intelektual, aktivis, dan mahasiswa tersebut juga dihadiri guru besar dari UIN Ar-Raniry: Yusni Saby. Profesor Yusny sempat mensitir hasil survei Setara Institute yang baru saja dirilis sehari sebelumnya, di mana Banda Aceh masuk di antara jajaran kota intoleran. Hasil yang menimbulkan pertanyaan dari berbagai kalangan.

Dengan nada yang positif Yusny Saby menyampaikan agar kajian apa saja boleh terus berlanjut, namun yang penting adalah semangat untuk memperbaiki. Dengan optimis Yusny juga menyatakan bahwa hasil-hasil survei tersebut boleh saja dipertanyakan, tapi yang lebih penting menurutnya adalah bagaimana kita terus mengintrospeksi dan memperbaiki diri.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.