Survivor: Kisah Selamat dari Tsunami Aceh

0
1206

“PERKENALKAN nama saya Bundiyah, saya salah satu korban selamat dari kapal ini,” perempuan mengenakan jilbab merah muda itu mengawali ceritanya. Di belakangnya sebuah kapal berada di atap rumah.

“Ie laot diek, ie laot diek, dikheun le awak boat. Watei lon kalon, ee ka mate lon uroe nyoe,” ujar Bundiyah mengingat kembali detik-detik tsunami menerjang Aceh, 26 Desember 2004. [Air laut naik, air laut naik, teriak orang dari atas perahu. Ketika saya lihat, mati saya hari ini].

“Habis kami minta-minta maaf, ternyata Allah berkehendak lain, tiba-tiba masuk kapal,” lanjut Bundiyah.

Bundiyah penyintas tsunami Aceh tahun 2004 silam. Dia satu dari 59 korban selamat berkat sebuah kapal nelayan yang terseret ke perumahan warga.

Setelah air tsunami surut, kapal itu tersangkut di atap rumah warga. Hingga kini, kapal ini menjadi objek wisata tsunami di Lampulo, Banda Aceh.

Kisah Bundiyah ini diabadikan oleh Ahmad Ariska dan Siti Maghfirah dalam sebuah film dokumenter berdurasi 13 menit. Film berjudul Survivor itu diproduksi selama dua bulan.

Bundiyah, warga Lampulo, sebelum tsunami menghabiskan hari menjual kolak dan sarapan pagi di TPI Lampulo.

“Setelah tsunami dan sampai saat ini Bundiyah menjadi pencerita tentang kisahnya selamat dari tsunami di situs tsunami boat di atas rumah Lampulo,” kata Ariska, Minggu (23/12/2018).

Film Survivor merupakan bagian dari program Aceh Japan Community Art Project 2018. Program itu bagian dari rangkaian kegiatan peringatan 14 tahun tsunami Aceh.

Film Survivor akan diputar pada Community Art Film Festival di meeting room lantai 2 Museum Tsunami Aceh, pada Senin, 24 Desember 2018, sekitar pukul 10.00-12.00 WIB.

Selain Survivor turut diputar film The secret of Lamno yang diproduksi oleh Wirda. Film itu berdurasi 7 menit dan ceritanya memperkenalkan Lamno, Aceh Jaya, sebagai lokasi wisata bencana tsunami.

Film terakhir yaitu, Dokter Jepang (Atsushi Kadowaki) berdurasi 10 menit. Film itu sebuah dokumenter mengenai seorang mantan tentara Jepang yang datang ke Indonesia pada saat perang dunia kedua dan beliau lebih memilih tinggal di Meulaboh meskipun perang dunia kedua sudah usai. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.