Connect with us

Swades, Perjalanan Melihat Masalah dari Akarnya

Film

Swades, Perjalanan Melihat Masalah dari Akarnya

Sedih dan perasaan bersalah itulah yang menghantui Mohan. Terlebih saat peringatan kematian orang tuanya. Ia merasa bertanggung jawab untuk mencari pengasuh masa kecilnya yang kini tinggal di panti jompo. Hidup penuh gemerlap dan sukses seorang diri di New York, membuatnya memutuskan kembali ke India guna mencari dan membawa sang pengasuh tinggal bersamanya.

Pencarian ini membuat perjalanan Mohan Bhargava penuh petualangan warna dan menemui beragam masalah. Film ini memotret perbedaan mencolok kilauan kehidupan seorang ilmuan muda India yang bekerja di lembaga penelitian NASA dengan kampung pedalaman Hindustan. New York yang penuh kemajuan ke kampung yang kurang listrik, hanya mempunyai satu telphone umum apalagi internet jauh dari pengetahuan mereka.

Swades atau dalam bahasa Indonesia berarti “Tanah Air” dirilis pada tahun 2004. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Ashutosh Gowariker ini memasang Shah Rukh Khan sebagai pemain utama.


Film ini merupakan proyek pertama Bollywood yang langsung memperoleh izin syuting di markas NASA. Proyek yang ditangani oleh Mohan pada film ini juga merupakan program NASA yang diluncurkan pada tahun 2004. Film ini diangkat dari kisah nyata pasangan asal India yang memiliki kewarganegaran asing, Aravinda Pillalamarri dan Ravi Kuchimanchi. Keduanya pulang kampung lalu membuat program sosial berupa pengembangan generator pedal untuk menerangi sekolah-sekolah di pedalaman.

Walaupun ini bukanlah proyek film komersial sang raja Bollywood namun tema dan aktingnya dalam film ini mendapatkan pengakuan sebagai salah satu yang terbaik. Pengamat film memuji film ini sebagai salah satu karya klasik yang tetap menjadi tontonan yang menarik untuk masa kini. Shah Rukh Khan sendiri dalam sebuah wawancara pernah menyebutkan bahwa Mohan termasuk salah satu perannya yang paling ia sukai. Film ini sendiri gagal di Box Office.

Film ini juga dibintangi oleh Gayatri Joshi sebagai Gita dan Kishori Ballal. Musiknya diaransemen oleh A.R. Rahman. Nama Mohan pada film ini diambil dari nama kecil Mahatma Gandhi. Film ini juga dibuka dengan kutipannya yang terkenal “Ragu-ragu bertindak karena seluruh visi akan gagal atau karena pihak lain belum membaginya merupakan sikap yang menghambat kemajuan.”

Awalnya Mohan mengira pencarian terhadap Kaveri Amma tidak memakan waktu lama. Ia memanfaatkan masa cutinya diselah projek Global Precipitation Measurement (GPM) yang dipimpinnya. Namun rencananya tidak berjalan lancar karena sang Nani sudah tak lagi tinggal di salah satu panti jompo Delhi, namun sudah pindah ke desa kecil bernama Charanpur. Ia pun akhirnya memutuskan untuk berkelana ke salah satu daerah tertinggal di distrik Uttar Pradesh itu. Di awal perjalanan Ia memutuskan menyewa mobil karvan khusus lengkap dengan listrik dan air untuk menunjang hidup di kawasan pedalaman itu. Ia juga menyediakan botol air mineral beberapa kotak karena kurang bersihnya air, kekurangan tenaga listrik.

Berbekal peta dan petunjuk seorang musafir yang ia temui di jalan, akhirnya Mohan sampai ke tujuan. Ia bertemu dengan Kaveri yang sangat bahagia karena anak asuhnya masih menggingatnya. Beberapa hari tinggal bersama, Mohan akhirnya tahu bahwa bukanlah hal yang mudah untuk membawa sang pengasuh itu ikut bersamannya. Apalagi masih ada Gita dan adiknya Chikku yang membawa Kaveri ke desa itu untuk tinggal bersama setelah orang tuanya meninggal.

Kaveri memberi syarat kepada Mohan bahwa ia akan pergi setelah Gita menikah karena itu merupakan tanggung jawabnya sekarang. Mohan setuju untuk membantu namun itu ternyata bukan hal yang mudah kerena Gita sendiri masih ingin bekerja sebagai guru setelah menikah nanti dan hal ini membuat banyak calonnya yang membatalkan perjodohan. Gita mempercayai bahwa laki-laki dan perempuan punya kesempatan yang sama dalam pendidikan.

Masalah semakin pelik bagi Mohan ketika sekolah satu-satunya di desa tersebut tempat Gita mengajar akan segera ditutup karena kekurangan murid. Para tertua kampung yang berkasta Brahmana tidak ingin ada ada putra meraka belajar bersama anak-anak dari kasta sutra dan membuat anak perempuan mereka berhenti sekolah karena itu dianggap tidak penting. Gita sendiri percaya bahwa pendidikan akan membuat tempat tinggalnya lebih baik dan ia bekerja keras agar semua anak mendapatkan pendidikan yang layak dan gratis. Agar misinya cepat tercapai Mohan pun membantu.

Masalah semakin komplit untuk memenuhi kuota siswa agar sekolah tidak ditutup. Mohan berkeliling desa itu dan melihat masalah lebih dekat seperti perkawinan di bawah umur, kemiskinan hingga masalah perbedaan kasta. Ia sebagai pendatang baru pun dianggap telah membuat masalah di desa karena menentang adat istiadat yang telah menjadi hukum tak tertulis. Ia dianggap susah mencoba mengacaukan sistem dengan bekerja sama dengan orang yang mempunya kasta jauh di bawahnya.

Suatu hari ketika bioskop keliling diputar di lapangan kampung mereka, Mohan melihat sesuatu yang tidak pernah terpikirkan sama sekali ketika tinggal di New York. Ia melihat bagaimana untuk menonton saja penduduk dibagi menurut kasta dan yang dianggap paling rendah derajatnya harus menonton dengan layar terbalik lalu listrik padam di tengah film.

Suatu hari Mohan ditugaskan Kaveri untuk pergi ke sebuah tetangga bernama Kodi untuk menagih hutang atas peminjaman tanah pertanian milik orang tua Gita oleh seorang petani bernama Haridas. Perjalanan yang jauh membuat ia belajar banyak mengenai desa sekitar. Kondisi rumah petani yang sangat miskin membuatnya merasa miris kalau harus menagih utang yang sudah menunggak berbulan-bulan bahkan ia tidak bisa menolak ketika sang petani menawarkan mereka menginap. Namun Haridas memperlakuan mereka sebagai tamu dengan baik, istrinya memasak seadanya dan mereka makan dalam gelap tanpa listrik dan tidur di luar karena rumah itu hanya gubuk papan kecil.


Haridas bercerita bahwa ia tidak bisa membayar sewa karena mereka tidak bisa panen tahun ini. Haridas dulunya merupakan seorang penenun. Namun dengan masuknya mesin ke kampung, ia kehilangan penghasilan. Sehingga ia memilih menjadi petani dengan menyewa tanah. Ternyata itu ditentang oleh para pemuka adat, karena ia dianggap sudah merusak sistem sehingga mereka menahan air agar tidak masuk ke sawahnya sehingga panennya gagal. “Padahal saya adalah petani tapi untuk menghentikan tangis anak kami yang kelaparan saja saya tidak mampu,” katanya.

Mohan pulang dengan hati yang semakin berat dan misi yang gagal. Ketika perjalanan mengunakan kereta api, ia melihat seorang anak menjual air kepada penumpang saat kereta berhenti, Mohan yang selama ini hanya meminum air kemasan selama di India akhirnya membeli air itu. Adegan ini walaupun tanpa dialog meramaikan kunci penting dalam merubah pola pikir Mohan dan merupakan titik balik pada film ini.

Deadline pekerjaan yang semakin dekat membuat ia harus segera kembali ke NASA namun sebelum itu ia berjanji akan berbuat sesuatu walaupun ditentang oleh perangkat di desa tempat tinggalnya sekarang.

Walaupun tidak begitu sukses di pasaran dibandingkan film Khan yang lain namun berhasil memotret kondisi terkini masyarakat dan pembelajaran yang berharga menurut pengamat film. Kondisi yang kompleks tentang masyarakat yang jarang digambarkan oleh Bollywood. Mengambarkan berbedanya gemerlapnya Manhatan dan gelapnya desa pedalaman di India.

Film ini juga dianggap sukses mengelitik rasa kemanusiaan dan menawarkan masalah lengkap dengan solusinya. Perkataan Mohan kepada perangkat desa tentang bagaimana kita selalu menyalahkan orang lain saat kita mengalami kegagalan juga patut direnungkan. Film yang diberi nilai 4.5 dari 5 ini menjadi tontonan menarik untuk keluarga di akhir pekan, karena menjadi pengingat bagi perantau kenapa kita harus kembali.[]

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Film

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top