Syair Baru Hikayat Prang Sabi

0
1853

Subhanallah wahdahu wa bihamdihi. Khalikul badri wa laili adza wa jalla. Ulon pujoe poe sidroe poe syukur keu Rabbi ya aini. Keu kamoe neubri beusuci Aceh mulia.

Tajak prang musoh beuruntoh dum sitrei nabi. Nyang meu eungki keu Rabbi keu Po yg esa. Musoe hantem prang syit malang ceulaka tuboh rugoe roh. Syuruga tan roh reugoe roh balah neuraka. Syuruga tan roh reugoe roh balah neuraka.

Begitulah sepenggal lirik pembuka dalam Hikayat Prang Sabi. Syair pembangkit semangat jihad orang Aceh ketika perang menghadapi Belanda itu, kini dikemas ulang dengan nada dan tempo lebih cepat oleh grup musik bergenre hiphop di Provinsi Aceh: Orang Hutan Squad.

Hikayat yang disenandungkan saat hendak berperang itu ditulis oleh ulama Aceh, Teungku Chik Pante Kulu. Senandung Prang Sabi berisi nasihat, ajakan, dan seruan untuk terjun ke medan jihaad fii sabilillaah, yakni menegakkan agama Allah dan meraih imbalan pahala yang besar.

Pada 19 Juni 2018, Grup Orang Hutan Squad merilis sebuah video musik Prang Sabi di situs berbagi video YouTube. Prang Sabi dengan irama dan syair baru ini dilantunkan dalam enam bahasa: Aceh, bahasa Aceh (dialeg Aceh Besar), Aceh Singkil, Aneuk Jamee, Kleut, dan Indonesia.

Bahasa-bahasa itu merupakan ragam bahasa daerah yang masih sering dipakai dalam keseharian masyarakat Aceh.

Selain bahasa, pada lagu ini pula ada pengubahan beberapa bait lirik. Perang yang dimaksud dalam Prang Sabi baru ini bukan lagi perang dengan kekerasan, melainkan perang dengan pikiran melawan kebodohan.

Ini seperti tertuang dalam lirik yang dilantunkan dalam bahasa Aneuk Jamee, “Kinin bukan pakai sanjato tapi pikian. Kito bisa basamo maju walau dari pinggian. Ainul Mardhiah alah lamo mananti di ateh sugo. Tatok dijalan Rabbi tatok kambangkan budayo kito.”

Lirik itu jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia menjelaskan, “Kini perang bukan lagi dengan senjata, tapi pikiran. Kita bisa maju walau dari pinggiran. Ainul Mardhiah menanti di surga. Kita tetap di jalan Rabbi, kembangkan budaya kita.”

Dalam keterangan unggahannya di YouTube, Orang Hutan Squad menyebut lagu Prang Sabi itu memadukan musik tradisional Aceh dengan modern.

“Kami sebagai penerus leluhur, mengekspresikan karya terbaik ini dalam sebuah lagu bergenre hiphop, berpaduan antara musik tradisional dan modern dikemas sesuai karakter kami yaitu RAP & DJ.”

Dalam sebuah video lain, salah satu personel Orang Hutan Squad, Andre Mandor mengatakan, Prang Sabi kini bukan lagi seperti perang zaman dahulu.

“Tetapi sekarang kita berperang melawan kebodohan dan budaya luar yang memengaruhi anak-anak Aceh.
Kita juga menghormati ulama dan leluhur yang gugur dalam perang Aceh,” kata Andre.

Prang Sabi versi Orang Hutan Squad dinyanyikan lebih dari satu orang. Andre menjelaskan masing-masing peran personel itu, seperti lirik pembuka Prang Sabi dibawakan oleh Adhjie, Rama D Flow berbahasa Aceh, dan Marfa berbahasa Aceh Singkil.

Selanjutnya Apis bahasa Aceh dialek Aceh Besar, Farheroes berbahasa Aneuk Jamee, Fixlus berbahasa Kleut, dan bahasa Indonesia dinyanyikan oleh Putra.

Hingga 9 Desember 2018, video musik lagu ini telah disaksikan lebih dari 97 ribu kali dan disukai hampir dua ribu orang.

Syair telah dilafal tertulis dalam hikayat. Semangat untuk berjihad demi keadilan yang hakikat. Seruan menuju surga dan pahala yang berlipat. Sekarang saatnya generasi muda yang berbuat.

Kita pengganti para leluhur yang telah gugur. Memang benar darah Aceh tidak takut untuk bertempur. Penerus warisi ilmu indah dalam bertutur. Yakin akan terwujud sujud akhirku tuk bersyukur. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.