Connect with us

Tanpa Teori Meliput Konflik Aceh

Adi Warsidi (tengah, gondrong) bersama tim acehkita menziarahi makam Ersa Siregar

Kabar dari ACEHKITA

Tanpa Teori Meliput Konflik Aceh

BERBEDA dengan kawan-kawan wartawan di acehkita lainnya, Adi Warsidi tak punya media lain untuk menulis selain acehkita. Melakukan liputan menggunakan ID acehkita adalah bunuh diri. Seperti umumnya kawan yang lain, kartu identitas berwarna kuning yang dikeluarkan acehkita, hanya disimpan di lemari.

Kerena kebutuhan, kartu identitasnya terpaksa dikeluarkan oleh J Kamal Farza, yang juga mendirikan salah satu media lainnya di Jakarta. Namanya ‘Lacak’ yang fokus pada isi-isu korupsi.

Dia bergabung dengan acehkita bersama Fakhrurradzie pada penghujung 2004. Satu nama lain yang segenerasi dengannya adalah Maimun Saleh. Adi yang pernah bekerja untuk Tabloid Modus sebelumnya ingat betul tulisan perdananya yang dimuat di sana, tentang ‘Rencong Aceh’. Bukan tentang perang, tapi lebih kepada feature budaya.

Dari semua wartawan acehkita, Adi Warsidi-lah yang penyamaran gampang ditebak. Dia memakai nama Adwar, disingkat saja dari namanya Adi Warsidi, sebagai nama penanya di Acehkita. Kalau tulisannya dinilai berbahaya, namanya dimunculkan dengan ‘Tim Acehkita’ saja. Namun posisinya aman-aman saja. Sampai pada akhirnya dia menjadi target pencarian PDMD. Begini ceritanya.

Adi dan beberapa wartawan Aceh di bawa ke Nagan Raya guna meliput acara peresmian pusat latihan TNI yang sedang dibangun sebagai arena pelatihan. Sekembalinya dari Nagan Raya, Adi menulis beritanya. Tak sesuai dengan harapan PDMD saat itu, Adi malah memberitakan bahwa tempat pelatihan TNI itu dibangun di atas tanah rakyat yang dibayar murah. Hampir semua wartawan yang menulis untuk acehkita ikut; Murizal Hamzah, Nani Afrida, Hotli, Yayan dan beberapa lainnya.

Berita itu tersiar sampai ke PDMD. Mereka lantas bertanya siapa wartawan Acehkita yang menulis berita itu. Pertanyaan diajukan oleh seorang staf Penerangan Kodam Iskandar Muda ke Yuswadi Ali Suud, yang saat itu bekerja untuk Tempo dan juga acehkita. Saat pertanyaan itu diajukan, Yuswardi lagi sedang bersama Adi, si Adward itu.

Adi Warsidi melapor kepada Pimpinan redaksi acehkita, Dandhy, dan menyarankan Adi untuk dievakuasi sementara ke Jakarata. Namun Adi merasa masih bisa bertahan. Dia menghindar tidur di rumah, dan ketika berjalan selalu dengan beberapa kawan.

Sebelum tsunami, Adi sempat melakukan liputan investigasi ke penjara perempuan di Lhoknga. Di sana dia menulis tentang banyaknya perempuan yang dipenjara hanya karena istri GAM dan tuduhan lainnya yang tak wajar. Laporan keluar, Adi dicari oleh aparat TNI atas koordinasi kepala penjara Lhoknga saat itu.

Beruntung, Adi membina hubungan baik dengan seorang aparat BKO Polisi yang menjaga penjara. Aparat polisi itulah yang mengabarkan kepadanya agar menghindar dulu untuk bepergian ke Lhoknga. Laporan tentang nasip perempuan di penjara itu belakangan mendapat respon dari Komnas Perempuan dan anak Indonesia, untuk turun tangan. Tapi belakangan, gelombang tsunami melanda Aceh pada 26 Desember 2004, semua penghuni yang masih ditahan dalam penjara meninggal dunia. Hanya satu orang narasumber Adi yang selamat dan kini menetap di Tringgadeng, Pidie Jaya. Dia bebas sebulan sebelum tsunami datang.

Fakta menarik yang diketahui Adi belakangan adalah; ternyata apa yang selama ini dilakukan acehkita juga dibutuhkan juga oleh TNI dan GAM. Hal itu baru terungkap setelah adanya perdamaian Aceh.

Kala itu, akhir 2006, Adi duduk dengan seorang stag di Penerangan Kodam Iskandar Muda di sebuah warung yang menjadi tempat kumpul wartawan. Tentara itu kemudian bertanya kepadanya. “Bang Adwar kan?”

Adi agak terkejut mendengar sapaan itu. “Ni bang Adwar kan, bang Adi Warsidi yang dulu di acehkita dan sekarang di Tempo kan?” Sambung laki-laki berseragam itu lagi.

Setelah itu Adi sadar bahwa acehkita dibutuhkan juga oleh tentara. Mengabarkan tentang konflik di Aceh, karena mereka juga punya kepentingan di situ. “Kalau misalnya saya tahu dari awal bahwa TNI itu tahu siapa-siapa saja wartawan acehkita, liputannya jauh lebih gampang,” sesal Adi Warsidi. Ternyata, hanya prajurit TNI di lapangan yang mengganggap wartawan acehkita juga lawan, tapi petingginya tak terlalu mempermasalahkannya.

Tidak ada satupun formulasi yang benar dalam meliput perang. Para jurnalis itu hanya ditempa lewat pengalaman. Sebagai bentuk pengamanan maka eksklusifitas tidak jadi hal utama. Jika sedang liputan di suatu tempat yang berkonflik, mereka dianjurkan untuk tidak bergerak sendiri. Begitulah saran Adi.

Kalaupun terpaksa pergi sendiri, diharapkan memberitahu kepada teman bahwa diri ingin meliput ke suatu tempat. Ini sikap antisipasi jika terjadi sesuatu. Bila waktu liputan merasa terancam, menghindar tak jadi masalah. Lain waktu baru dilanjutkan. []

DESI BADRINA | TEUKU ARDIANSYAH (KAKI LANGIT)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Kabar dari ACEHKITA

Advertisement

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top