Connect with us

Taxi Driver, Perjuangan Mencari Sebuah Kabar

Film

Taxi Driver, Perjuangan Mencari Sebuah Kabar

Korea Selatan kini menjadi salah satu kota moderen dan demokrasi di dunia. Namun bagaimana jika penonton diajak naik ke mesin waktu menjelajahi negara Gingseng ini tahun 1980 di mata seorang sopir taksi?

Taxi Driver menawarkan potret itu dengan sangat menarik. Merangkai kisah nyata yang dituturkan dengan ringkas tanpa membuat penonton bosan. Zaman di mana Korea Selatan masih berjuang untuk bangkit.

Adegan dibuka oleh seorang sopir taksi sederhana tapi lucu dan ceria. Ia harus bekerja keras untuk mengepulkan dapur rumahnya, terlambat membayar uang sewa rumah, dan tidak bisa membelikan sepatu yang baru untuk anak perempuannya. Demo yang terjadi di mana-mana menambah pelik masalahnya.

Suatu hari saat makan siang, ia mendengar pembicaraan sopir lain, bahwa ada seorang tamu dari Jerman yang akan menyewa taksi dengan bayaran 100.000 ribu won selama sehari jika berhasil masuk ke Gwangju. Uang itu setara dengan 1.400.000 rupiah,  jumlah yang sangat besar kala itu.

Karena perlu uang, ia pun dengan licik menjemput penumpang itu di bandara. Bahasa Inggris seadanya yang dipelajari saat bekerja di Arab Saudi membuatnya berani meyakinkan sang turis bahwa ia bisa mengantar ke Gwangju dan kembali dengan selamat.

Hinzpeter ternyata bukan turis biasa, namun ia adalah wartawan yang datang untuk meliput kajadian berdarah di Gwangju dan tentu saja kedatangannya dirahasiakan. Semua berita dari Gwangju kala itu ditutup. Akses ke sana juga begitu di bawah operasi militer.

Keadaan gawat itu tentu saja tidak diketahui oleh sang sopir taksi. Sang jurnalis masuk ke Korea menyamar sebagai misionaris. Mr Kim, begitu bapak seorang anak ini memperkenalkan diri pada penyewa mobilnya. Ia terus mengoceh sepanjang jalan yang hanya ditanggapi dingin dan ketus oleh si turis.

Saat mobil mereka dihadang oleh tentara yang memblokade jalan saat hendak memasuki wilayah Gwangju, Kim berniat kembali ke Seoul.

Namun ancaman dari Hinzpeter bahwa bayaran hanya akan dibayar saat mereka sampai di Gwangju, membuatnya memutar dan mencari jalan lain. Jarak antara Seoul ke Gwangju sendiri lebih kurang lima jam berjalanan darat.

Semua orang yang mereka temui di jalan bungkam saat ditanya arah jalan pintas. Sampai akhirnya mereka dibantu diam-diam. Namun apa yang sebenarnya kala itu sehingga kota itu tertutup untuk para pendatang?

Gwangju Uprasing begitu peristiwa itu dikenang. Kejadian ini terjadi pada 18  hingga 28 Mei 1980. Topik ini menjadi sangat tabu diperbincangkan di Korea Selatan hingga beberapa tahun yang lalu.

Pada saat itu, para mahasiswa turun ke jalan melakukan demonstrasi menolak pemerintahan di bawah darurat militer. Sekitar 600 orang lebih tewas dalam peristiwa itu.

Di depan Universitas Chongnam, ketika mahasiswa berteriak lebih keras dan vokal, mereka dipukul, diseret dan ditembak secara acak. Jalan ditutup, jaringan komunikasi pun diputuskan.

Surat kabar disensor, sehingga berita tentang kejadian ini menghilang dengan meninggalkan halaman koran yang kosong.

Jürgen Hinzpeter dalam sebuah wawancara mengungkapkan bahwa apa yang dilihatnya saat itu belum pernah ia lihat sebelumnya selama ia melakukan tugas jurnalistik.

“Never in my life, even filming in Vietnam, had I seen anything like this.”

Hinzpenter merupakan koresponden untuk media German broadcaster ARD untuk wilayah Jepang. Mendengar kata sensor untuk media, ia kemudian memutuskan untuk terbang ke Korea bersama sound tekniknya Henning Rumohr.

Mereka bertemu seorang sopir taksi paruh baya di bandara yang memperkenalkan namanya sebagai Kim Sa Bok.

Film ini mengungkap tokoh yang tak dikenal di balik berita fenomenal ini. Sosok sopir taksi yang membantu sang wartawan selama liputan ini tidak pernah tersebutkan sebelumnya.

Kim Sa Bok merupakan nama samarannya saat memperkenalkan diri, sehingga Hinzpenter sendiri tak pernah lagi bertemu dengan orang ini sampai ia meninggal. Bahkan, setelah mencari ke seluruh penjuru negeri.

Sang sutradara film juga mencoba melacak hal yang sama tapi hasilnya nihil. Sosok itu tetap misterius. Cerita ini dibuat dari penuturan Hinzpenter, sehingga tak heran film ini juga menggunakan rekaman asli sang wartawan.

Naskah yang dikerjakan oleh Uhm Yoo Na dan Jo Seul memang secara drastis menyederhanakan konteks politik dalam film ini sehingga lebih memudahkan penonton memahami film.

Film ini dirilis pada 2 Agustus 2017 di Korea Selatan ini berdurasi 137 menit dan segera menjadi favorit di bioskop. Film ini menduduki box office Korea Selatan selama tiga pekan berturut-turut. Pada 28 Agustus, film telah menarik 11,4 juta pemirsa.

Menurut distributor film Showbox, total kehadiran film ini melampaui angka 12 juta pada 9 September, menjadi salah satu film lokal yang paling banyak ditonton sepanjang masa di Korea Selatan.

Sutradara Jang Hoon membawa sentuhan yang ceria dan menyenangkan ke subjek tragis dengan berfokus pada ikatan antara reporter Jerman (Thomas Kretschmann) dan sopir taksi (Song Kang-ho) yang membantunya menyebarkan berita ke dunia.

Pemain yang lain juga memainkan peran mereka sangat menawan sehingga kita bisa ikut merasakan gejolak dalam film.

Taxi Driver menjadi salah satu dari banyak kisah yang terungkap dalam perjalanan tonggak demokrasi di Korsel. Film ini juga mengajarkan bahwa kebenaran itu harus diungkap walaupun sulit dan ada harga yang harus dibayar demi itu. []

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

More in Film

ACEHKITA TV

Trending

Kolom

Kuliner

Facebook

To Top