Connect with us

Tengger, Catatan Perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru [12]

Laporan Khusus

Tengger, Catatan Perjalanan Ekspedisi Indonesia Biru [12]

[vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_column_text]URUSAN kami dengan cerita semen di pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, berlanjut hingga jauh ke Jawa Timur. Selain karena kami kembali ‘melenceng’ dari cita-cita menyusuri jalur selatan Jawa karena harus ke Tuban (pantai utara Jawa), juga karena warga Sedulur Sikep seperti Gunretno ternyata juga muncul di Malang.

Energi Gunretno seperti tak pernah habis. Agendanya di Malang adalah untuk menemui seorang bekas karyawan atau pensiunan salah satu pabrik semen. Ia akan menjadi sumber anonim bagi Gunretno untuk memberikan informasi tentang lika-liku penambangan semen dan dampaknya bagi lingkungan atau masyarakat.

Gunretno hanya mengandalkan hidupnya pada pertanian. Melihatnya berkelana ke berbagai tempat tanpa sponsor siapa pun,adalah tamparan bagi kami yang kadang masih membayangkan mendapat dukungan dari sponsor sepeda motor atau perusahaan kamera. Beruntung, harapan ataumimpi-mimpi itu sudah lama kami pendam.

Bukankah filosofi ‘ekonomi biru’ adalah hidup, bertahan, dan mengembangkan dari apa yang sudah dimiliki? Seperti halnya bumi yang dilihat dari semesta berwarna biru dan tidak menggantungkan oksigenatau air dari luar angkasa. Bumi mendaur ulang sendiri semuanya menjadi sumberdaya baru. Sampah dan bangkai menjadi pupuk bagi kehidupan selanjutnya. Itulah reinkarnasi alam. Manusia lah yang gagal berpikir dan bekerja sebagaimana planet biru bernama Bumi ini.

Dengan demikian, tak ada ketergantungan pada modal, investasi, atau kredit. Independensi nalar, sumber kehidupan, dan akhirnya posisi politik.

RANU PANI

Setelah sepekan di Lumajang, Jawa Timur. Senin 9 Februari kami melanjutkan ekspedisi ke Ranu Pani.Sebuah permukiman di kantong konservasi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Desa yang penduduknya hidup dari bertani di atas ketinggian 2.100meter dari permukaan laut.

Selama di Lumajang (di rumah Dandhy), kami bagai raja kecil. Semua kebutuhan terutama pangan sudah terhidang. Pekerjaan terberat kami adalah membuat naskah video, menulis catatan perjalanan, merapikan file video atau foto perjalanan yang telah kami lalui.

Selebihnya tidur-makan-tidur lagi. Karena laptop yang dibawa cuma satu dan gantian menggunakan, maka yang paling banyak dapat kesempatan tidur adalah saya (Ucok Parta). Jika sudah bosan, sesekali kami berenang di Selokambang, sebuah obyek wisata kolam pemandian dari mata air alam.

Pagi itu, ditemani Cucuk Danartono, seorang jurnalis video, kami kembali memacu motor menuju negeri ‘berkabut’ di cekungan Semeru dan Bromo yang dihuni warga Tengger. Sebuah desa terakhir yang menjadi satu di antara titik mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa. Gunung berapi aktif dengan ketinggian 3.676meter dari permukaan laut.

Menurut catatan wikipedea, orang Tengger telah mendiami kawasan Semeru-Bromo sejak zaman Kerajaan Majapahit masih berjaya. Hal itu berdasarkan penemuan sebuah prasasti dari kuningan berangka tahun 1327 saka, atau 1407 masehi. Prasasti Walandhit itu, ditemukan seorang perempuan Tengger pada tahun 1880.

Pada saat kerajaan Majapahit kalah perang dari kerajaan Islam Demak pada abat ke-16 M,sejumlah pelarian atau pengungsinya diterima di Tengger. Jadi bukan orangTengger yang pelarian Majapahit.

Tapi versi lainnya menyebut, nenek moyang suku Tengger lah yang merupakan pengungsi Majapahit yang lari dari ekspansi kerajaan Demak. Hal ini dikaitkan dengan cara kegiatan sosial dan keagamaan yang sama dengan Majapahit yangbercorak Hindu-Budha.

Tapi yang paling perlu didengar dari kedua versi itu adalah versi orang Tengger sendiri. Seorang dukun bernama Bambang kami temui. Untuk menjadi dukundi Tengger, seseorang harus melalui beberapa tes, termasuk tes merapal mantra.

Sembari menyajikan kentang merah, makanan pokok orang Tengger di masalampau sebelum digantikan beras, Bambang menegaskan versi pertama: bahwa orang Tengger ada sebelum Majapahit. Bahwa mereka lah yang memberi ‘suaka’ dan bukan orang pelarian atau pengungsi.

Gubernur Hindia Belanda, Jenderal Thomas Stamford Raffles antara 1811-1817 pernah berkunjung dan meneliti Tengger. Dalam catatanya The History of Java dia mengemukakan sangat mengagumi orang Tengger. Dia melihat kehidupan yang damai, teratur, tertib, jujur, rajin bekerja, dan selalu gembira.

“Mereka tidak mengenal judi dan candu,” tulis Raffles.

Sekitar delapan kilometer meninggalkan Kecamatan Senduro di Lumajang, kami menemui gerbang selamat datang ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sejakdari sini, motor kami terus menanjak, jarang menemukan jalan datar. Pohon-pohon besar menjadi kanopi, di jalan aspal selebar kurang dua meter yang sudah terkelupas.

Makin dalam memasuki Taman Nasional, pohon-pohon besar yang dibaluti lumut dan paku-pakuan lebih banyak terlihat di kiri kanan jalan. Dari tekstur dan tinggi pohon-pohon itu, mungkin usianya ratusan tahun. Memadang lebih jauh, kabut masih menempel di lereng-lereng gunung, padahal hari sudah siang.

Kabut putih berarak menuruni lembah. Pekatnya seketika menelan perbukitan di kaki Semeru dari pandangan mata. Di dasar lembah, 22 pria sedang berpacu mendahului turunnya hujan untuk memanen kentang.

Kami memarkir motor di pinggir jalan. Saya turun mendahului Dandhy untuk mengejar momentum orang panen kentang. Cucuk berbesar hati menunggu di pinggir jalan sembari menjaga motor dan barang-barang kami. Memang, salah satu tantangan dalam perjalanan ini adalah kami kehilangan fleksibilitas bergerak atau berhenti spontan di sepanjang perjalanan. Alat-alat liputan menjadi alasan utama. Tapi ini sebuah pilihan.

Ternyata para petani itu baru menyelesaikan seperempat dari 2.500 meter persegi tanah yang harus dibongkar. Padahal ini sudah tengah hari. Bila hujan yang menang, pedagang kentang seperti Yonathan (44) harus memperpanjang hari kerja buruh taninya.

Dua mobil bakterbuka diparkir di pinggir ladang. Salah satunya telah terisi selusinan karungkentang.

“Ini akan langsung kami setor ke Pasar Porong. Saya perkirakan satu petak ini dapat lima ton,” terang Yonathan.

Sudah 14 tahun ia menjadi pedagang kentang yang memborong hasil panen petani di Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Secara administrasi, desa Ranu Pani seluas 500 hektar ini berada di dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Inilah desa yang berada di dalam kantong (enclave) sebuah kawasan konservasi seluas 50.200 hektar yang beririsan dengan empat kabupaten: Malang, Lumajang, Probolinggo, dan Pasuruan.

Untuk seperempat hektar yang dipanen hari itu, Yonathan dan petani pemilik tanah sepakat di harga 25 juta rupiah, dengan asumsi panen akan menghasilkan 5 ton kentang. Itu berarti satu kilo kentang di dalam tanah dihargai 5.000 rupiah per kilo. Bila hasil panen lebih besar dari angka asumsi, Yon lebih untung.

“Ke pengepul nanti saya oper dengan harga 6.500 per kilo.”

Bila matematika Yon tepat, ia akan mengantongi margin 7,5 juta rupiah sebelum dipotong transpor dan ongkos buruh tani.

“Kadang kalau petani kesulitan pupuk atau pestisida, saya memberikan pinjaman dan dibayar saat panen,” katanya enteng, seolah tak risau dengan julukan tengkulak atau ijon.

Ia memang sudah dekat dengan masyarakat Tengger di Ranu Pani. Selama enam tahun antara 1989-1995, Yonathan pernah menetap dan bertani di Ranu Pani. Seperti petani lainnya, di masa itu, ia menanam bawang putih.

“Setelah bawang putih hancur, saya kembali ke Tosari (Pasuruan).”

Peristiwa yang dimaksudnya terjadi antara 1995-1996, saat pemerintah Orde Baru mulai memasuki pasar bebas dunia. Setahun sebelumnya, Indonesia menjadi tuan rumah pakta perdagangan bebas Asia-Pasifik, APEC.

Tahun 1995, luas lahan bawang putih nasional mencapai 22 ribu hektar dengan total produksi lebih dari 279 ribu ton. Dengan volume sebesar itu, bawang putih lokal mampu memenuhi 95 persen kebutuhan dalam negeri.

Para petani di Ranu Pani seperti Yonathan menikmati harga 6.000 rupiah/kg. Tak terpikir untuk menanam kentang yang kala itu harganya hanya 350 rupiah/kg.

“Setelah bawang impor dari Tiongkok masuk, harga di konsumen sudah 2.250. Padahal di lahan saja harganya masih 6.000 rupiah. Bagaimana konsumen tidak berpindah ke bawang impor,” kenangnya.

Sejak saat itu, petani Ranu Pani beralih kekentang, kubis, atau bawang daun. Bawang putih sendiri tak pernah kembali. Volume impornya telah menembus setengah juta ton per tahun dan menghapus bawang lokal dari sejarah dengan menyisakan lima persen saja pangsa pasar domestik.

Tapi tak semua petani sependapat dengan Yonathan ihwal penyebab tunggal runtuhnya kejayaan bawang putih di desa Ranu Pani.

Joko (62), petani yang lebih senior, mengenang peristiwa itu akibat datangnya hama tanaman yang tak ada obatnya.

“Tanaman yang harusnya sudah berbuah, tiba-tiba layu dan busuk dari batang sampai daun. Tim dari Universitas Brawijaya sampai naik ke sini tapi tidak bisa menyembuhkan,” kenang Joko sembari duduk di depan tungku perapian.

Satu meter di atasnya, masih terpasang rakbambu yang gosong menghitam, bekas menjemur bawang putih. Saksi kejayaan ekonomi era 1990-an.

Di masa itu, seperempat hektar lahan mampu menghasilkan dua ton bawang. Dengan harga 6.000 rupiah per kilo, Joko mengalami masa keemasan dan menikmati hidup sebagai petani.

“Padahal saat itu uang 100 ribu saja sudah bisa untuk modal satu kali masa tanam. Jadi bayangkan kalau sekali panen bisa12 juta rupiah. Sekarang uang 100 ribu tidak ada harganya.”

MENGGRATISKAN YANG LAKU DIJUAL

Sebagai warga Tengger yang mulai menetap di Ranu Pani sejak 1960-an, Joko mengalami siklus jatuh-bangunnya komoditas pertanian.

“Dulu ayah saya menanam jagung dan kentang merah. Tapi hanya untuk dimakan sendiri. Setelah ada bawang putih, kami pindah.Setelah tanah ini tak mau lagi menumbuhkan bawang, kami beralih ke kentang. Sekarang kami menikmati kejayaan kentang. Entah sampai kapan tanah ini maumenumbuhkan kentang,” paparnya.

Di seberang perapian, Sukodono (46) ikutduduk menghangatkan badan. Suhu terendah di Ranu Pani bisa mencapai minus empat derajat Celcius dan paling hangat 21 derajat. Keponakan Joko ini juga bertanam kentang dan telah membangun rumah permanen serta membeli sepeda motor 250 cc. Transportasi roda dua paling mentereng di desanya, meski tanahnya tak lebihdari 1,5 hektar.

“Kami cukup sejahtera dari kentang. Meski tak ada petugas pertanian dari pemerintah, di sini seperempat hektar bisa menghasilkan 40 juta karena kami mengembangkan bibit sendiri,” Suko menimpali.

Semula petani Ranu Pani membeli bibit kentangdari luar, termasuk jenis Granola L atau Lembang. Tapi setelah mengembangkanbibit sendiri dengan jenis Granola Kembang, kualitas buahnya lebih maksimal.

Suko hanya perlu memanfaatkan atap rumahnya untuk lokasi pembibitan di dalam deretan polybag. Sedangkan Joko memanfaatkan lahan di belakang rumahnya untuk menyemai bibit.

“Saya menjual bibit 300 ribu per kilo. Banyak yang mau. Terutama orang dari luar. Tapi kalau ada yang mau tahu bagaimana caranya, juga saya ajari,” sambung Joko.

“Mengapa menggratiskan sesuatu yang justru bisa Bapak jual?” tanya kami.

“Kalau saya mau membuat pagar yang rapat agar orang tak bisa melihat, bisa juga. Tapi apa iya seperti itu yang disebut hidup?” tukasnya sembari tertawa.

“Padahal di tempat lain, kalau mau belajar pertanian harus bayar,” sambung Suko yang pernah diajak studi banding oleh sebuah lembaga konservasi internasional ke Lembang dan pegunungan Dieng.

ANCAMAN BENCANA KEDUA

Di luar, hujan masih turun. Yonathan dan ke-22 buruh taninya terpaksa jeda bekerja. Joko dan Suko masih duduk di depan perapian. Mereka mengkhawatirkan hilangnya masa-masa kejayaan kentang, sebagaimana halnya bawang putih. Tapi kali ini bukan oleh penyakit atauancaman kentang impor. Melainkan proses erosi lahan pertanian.

Sejak menanam kentang, warga Ranu Pani meninggalkan sistem pertanian teras iring, meski lahan mereka berada di punggung-punggung bukit yang curam. Akibatnya, bila hujan, aliran air membawa serta unsur hara tanah tanpa ada penghalang. Termasuk pupuk-pupuk yang ditabur di atasnya.

Salah satu indikatornya adalah terjadinya pendangkalan dan penyuburan danau Pani yang terletak di ujung terendah Desa Ranu Pani. Sepuluh tahun lalu, pihak Taman Nasional mengukur kedalaman danau masih puluhan meter. Tapi tahun lalu, di titik yang sama, dalamnya hanya tigameter.

“Mereka tahu lapisan tanah yang subur tinggal 20 centimeter. Dan nenek moyangnya dulu mengenal sistem pertanian teras-iring untuk menahan erosi. Tapi keuntungan kentang terlalu menggiurkan,” sesal Toni Artaka, Kepala Resort TNBTS Ranu Pani.

Suko sendiri menyadari bahwa para petani enggan menggunakan teras-iring karena akan mengurangi luas lahan yang bisa ditanami. Tanaman keras pun dihindari karena tutupannya akan mengurangi daya tembus sinar matahari. Tapi mereka sendiri mengaku punya solusi, meski perlu bantuan pemerintah.

“Kami akan membuat semi teras-iring dan menanam rumput gajah untuk menahan erosi. Tapi perlu bantuan bibit ternak untuk menampung rumput-rumput itu bila sudah besar dan pertumbuhannya tidak terkendali,” paparnya.

Tanpa ternak, warga tak punya motivasi untuk memotong rumput dan hanya menyita waktu bertani mereka. Bila rumput tak dipotong, pertumbuhannya akan mengganggu tanaman kentang.

“Jangan sampai danau Pani tinggal sejarah. Nama desa ini diambil dari danau itu. Tapi yang lebih penting, kalau tanah terus-menerus terbawa hujan, anak cucu kita nanti kita warisi bukit berbatu,” kata Bambang, yang dikenal sebagai dukun desa.

Ia mengucapkan itu di depan Suko yang pada suatu malam berkunjung ke rumahnya.

Kegelisahan yang sama juga dirasakan Joko yang pernah mengalami jatuh bangun bertani bawang putih.

“Kalau tanah ini sudah tak mau lagi menumbuhkan kentang, lalu kami ini apa?” pungkasnya sembari mengantar kami beranjak dari perapian.

Hujan sedikit reda. Tapi kabut masih bergelayut di tebing-tebing curam lahan pertanian yang terancam. (bersambung)

DANDHY D. LAKSONO | SUPARTA ARZ | EKSPEDISI INDONESIA BIRU[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Laporan Khusus

To Top