Terjebak di Perkebunan, Gajah Liar Diangkut ke Hutan Lindung

0
831

SUBULUSSALAM | ACEHKITA.COM – Seekor gajah liar berkelamin betina yang diberi nama Septi terpaksa harus diangkut menggunakan truk saat proses translokasi atau pemindahan tempat dari areal perkebunan warga ke kawasan hutan lindung.

Gajah Septi lebih dari lima tahun terakhir terisolasi atau terpisah dengan kelompok gajah liar lain. Septi terjebak di areal perkebunan warga di Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, Aceh.

Upaya pemindahan tempat bagi gajah Septi berlangsung selama enam hari. Gajah berumur 20 tahun itu berhasil ditangkap menggunakan senjata bius pada Sabtu, 8 Desember 2018.

Operasi translokasi melibatkan 35 personel gabungan dari BKSDA Aceh, Dinas LHK Aceh, KPH Wilayah 6, WCS, FKL, OIC dan didukung Direktorat KKH Direktorat Jenderal KSDAE, PKSL Unsyiah, Usaid Lestari serta BCCPGLE KFW. Selain itu, turut melibatkan lima ekor gajah jinak dari CRU DAS Peusangan, PKG Saree, dan CRU Trumon.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Sapto Aji Prabowo menuturkan, upaya translokasi gajah liar sudah direncanakan sejak 17 bulan lalu, tetapi beberapa kali sempat tertunda karena kesulitan mengakses lokasi tujuan pelepasliaran kembali di kawasan hutan Bengkung.

Hutan Bengkung berada di antara perbatasan tiga kabupaten: Subulussalam, Aceh Selatan, dan Aceh Tenggara. Akses ke hutan itu baru bisa ditembus setelah PT ISP membuka perkebunan.

“Tim gabungan memulai kegiatan translokasi pada Kamis 6 Desember 2018 yang lalu. Perlu waktu tiga hari hingga kemudian tim berhasil menembak bius gajah Septi,” kata Sapto kepada wartawan, Senin (10/12/2018).

FOTO: BKSDA Aceh

Gajah yang setengah terbius kemudian ditarik oleh gajah jinak ke truk pengangkut pada Minggu subuh. Selanjutnya diangkut ke perbatasan perkebunan PT. ISP dengan hutan produksi.

Pada Minggu (9/12) dinihari, tim gabungan kemudian menarik gajah Septi menuju hutan lindung Bengkung berjarak sekitar 20 kilometer. “Proses pemindahan dilakukan tengah malam hingga pagi supaya menghindari sengatan matahari yang bisa membahayakan keselamatan gajah,” ujar Sapto.

Pada Senin (10/12) sekitar pukul 10.00 WIB, gajah Septi tiba di titik pelepasan yang telah direncanakan. Sebelum dilepas, petugas memasang GPS Collar untuk memantau pergerakan Septi. GPS Collar yang dipasang akan mengirimkan data posisi gajah ke receiver BKSDA dan PKSL Unsyiah melalui satelit.

“Septi diharapkan dapat bergabung dengan kelompok gajah yang ada di Bengkung yang diperkirakan ada sekitar 10 ekor. Jika Septi bisa bergabung ke kelompok gajah Bengkung, akan sangat bagus untuk meningkatkan keragaman genetis kelompok gajah ini,” tutur Sapto. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.