Connect with us

Teror Dari Dalam Kantong

KOLOM KUPI SANGER

Teror Dari Dalam Kantong

Siang, sepulang sekolah, suasana sekolah dasar tempat anak saya menuntut ilmu terlihat lebih padat dari biasanya. Beraneka ragam kendaraan, baik kendaraan roda dua, tiga hingga roda empat terlihat parkir di pinggir jalan depan sekolah. Kemacetan pun tak bisa dihindari. Beberapa di antara mereka terlihat sedang berbicara dengan para penjemput lain, ada yang hanya berdiri sendiri sambil memandang kerumunan anak-anak yang sedang bermain. Sebagian besar terlihat asik dan serius membaca informasi dari smartphone. Pemandangan ramai yang tak seperti biasanya ini dipacu oleh maraknya isu tentang kasus penculikan anak.

Saya memang bisa dikatakan relatif jarang menjemput sendiri anak dari sekolahnya, karena sering berbenturan dengan tugas di kampus yang tak bisa dihindari. Berbeda dengan Cek Pan, pemilik warkop Cek Pan, adalah salah seorang orang ayah yang tidak pernah absen menjemput anaknya. Sesibuk apapun, seramai apapun kedainya, ia tetap “mewajibkan” diri menjemput sendiri anaknya sepulang sekolah. Ada kebahagian yang tak ternilai saat mengantar dan menjemput anak ke sekolah, itu alasannya. Memang, saya sempat malu hati pada sahabat yang satu ini untuk konsistensinya dalam bidang antar-jemput anak. Siang itu, sambil menunggu si buah hati, kami juga membahas tentang isu penculikan tersebut.

“Cek Pan, kata berita di grup WA dan di FB ada kasus penculikan anak di dekat-dekat ini,” saya memulai pembicaraan. WA atau WhatsApp dan FB atau Facebook aplikasi percakapaan dan media sosial sumber boleh dibilang sebagai sumber informasi digital yang paling sering menjadi referensi para pengguna ponsel pintar.

Cek Pan yang jarang update info media sosial karena ponselnya hanya memiliki triple fungsi yaitu telepon, SMS dan senter, hanya tersenyum. Ia juga paham isu ini dari koran dan perbincangan di warkopnya.

“Tapi, itu kan hanya isu. Bahkan Pak Kapolri bilang kabar penculikan anak tidak benar. Itu hoax.”

“Betul, tapi kita sudah terlanjur panik dan takut seperti ini. Kira-kira siapa pelaku kabar-kabar itu ya?” tanya saya ke Cek Pan.

“Teroris.”

Jlebbb. Jawaban singkat Cek Pan bikin saya makin penasaran.

“Tugas utama teroris kan sebenarnya sederhana aja, yaitu bikin teror. Nah, saat dia berhasil membuat cemas dan takut pada berita-berita yang tak jelas kebenarannya, maka ia berhasil menciptakan teror yang bikin horor. Terornya menusuk ke “jantung” isu penting di masyarakat kita, yaitu urusan yang paling krusial dalam keluarga, masalah anak-anak kita. Kita takut hal seperti ini terusik.”

Memang isu tentang penculikan anak, seakan-akan menjadi teror baru yang menakutkan dan berubah menjadi kisah-kisah horor. Apalagi dibumbui dengan kasus-kasus pedofil, pembunuhan, hingga penjualan organ tubuh manusia. Berbagai cerita-cerita kriminal di dalam masyarakat seolah menggelinding laksana bola es, makin lama makin besar, dikaitkan dengan periode waktu yang jauh berbeda dan kasus-kasus di daerah lain yang tak ada kaitannya. Namun, dengan informasi melalui kecepatan internet dan variannya seperti media sosial dan chatting mampu membungkus isu bahkan mungkin fitnah dalam satu paket teror. Teror itu lahir dan disebar secara viral dari ponsel kita, ia menyebar dari kantong celana kita, menjadi kisah horor.

“Saya jadi ingat isu tentang Hantu Kojek yang sempat hangat di tahun delapan puluhan. Waktu itu kita yang masih duduk di bangku sekolah dasar juga sempat ditakutkan oleh cerita-cerita tentang orang atau hantu yang katanya bisa berubah wujud dalam bentuk kucing hitam.”

Cek Pan mengangguk dan kembali berkomentar.

Lon malah curiga, walaupun dipeugah hoax, haba hana jelaih lagee nyoe ka direncanakan dengan rapi dan terorganisir, bahkan aktor atau dalang di balik semua kejadian ini tak pernah terungkap.”

Semakin masifnya peristiwa kriminal membuat masyarakat makin tak percaya dengan institusi keamanan. Diperparah dengan lembaga pengadilan yang dianggap belum mampu memberikan rasa adil kepada masyarakat. Akibatnya masyarakat makin berani main hakim sendiri.

“Walaupun masyarakat sudah berani main hakim sendiri, tapi sebagai warga kita perlu siapa saja sebagai penyelamat kondisi seperti ini. Kita butuh pahlawan.”

Saya tak paham. Cek Pan, lalu berusaha mempermudah bahasanya.

“Jadi urutannya seperti ini, ada suasana galau dan panik massa, lalu muncul pengadilan ala massa akibat masyarakat tidak percaya pada institusi hukum, tapi masalahnya masyarakat tidak bisa selamanya bergantung pada pengadilan “swadaya” itu. Kita tetap butuh institusi negara untuk menjawab dan menuntaskan masalah ini. Jadi ini merupakan suatu proses penciptaan kebutuhan kita akan “pahlawan” itu. Itulah yang sedang diciptakan, yaitu kebutuhan kita akan penyelamat. Walaupun penyelamat itu memang dan seharusnya berasal dari institusi negara sendiri.”

Jeh, kayak jeruk makan jeruk, lah.

Saya dan Cek Pan tertawa.

“Tapi, yang saya sayangkan, di beberapa tempat ada orang-orang yang kurang waras- menurut pemikiran kita- dituduh dan ditangkap sebagai pelaku penculikan. Bahkan sempat dikeroyok oleh warga sampai bonyok. Makanya, Bang Trom udah seminggu ini tidak kelihatan di warkop saya. Gak tau kemana dia. Padahal kita tau, dia orang baik, walaupun punya “pemikiran” berbeda dengan kita, tapi ia tidak pernah melakukan tindak kriminal, apalagi menculik anak. Tak mungkin rasanya.”

“Jika kita mau mengambil hikmah dari kasus penculikan anak ini yaitu mampu menyadarkan kembali sebagai orang tua atau ayah untuk mengambil peran aktif dalam mendidik dan menjaga anak-anak kita. Kita harus lebih serius memperhatikan lingkungan anak-anak, baik itu tempat beraktifitasnya maupun siapa-siapa saja temannya. Kita perlu terus memantau perkembangannya hingga apa yang ditontonnya.”

Kali ini Cek Pan mengaminkan ucapan saya.

Tak terasa, percakapan kami mampu mengisi waktu tunggu para ayah yang sedang menjemput anaknya dari sekolah. Dari jauh saya melihat anak saya dan anak Cek Pan bersama-sama mendekat ke arah kami. Sambil berpegangan tangan dan tertawa.[]

 

*Banda Aceh, 25 Maret 2017

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in KOLOM KUPI SANGER

To Top