Connect with us

Tren Lebaran, dari Sari India hingga Gamis Turki

Fesyen

Tren Lebaran, dari Sari India hingga Gamis Turki

[vc_row][vc_column width=”1/1″][vc_column_text]DUA pekan menjelang hari kemenangan, Pasar Aceh sudah disesaki beragam pembeli. Di antara mereka banyak yang berburu kebutuhan hari raya seperti baju, sepatu hingga gorden untuk memperindah rumah. Beragam model baju dipajang, mulai dari model terbaru hingga yang dipopulerkan oleh pesinetron kala Ramadan. Namun, Nana tidak perlu susah mencari pelbagai atribut busana lebaran. Ia sudah merencanakan apa yang akan dipakainya jauh-jauh hari.

“Pasar selalu ramai dan agak mahal menjelang lebaran. Jadi saya sudah membeli sebelum Ramadan,” kata Nana.

Menurut Nana, baju baru bukan suatu keharusan tapi kerena  baru saja menikah sebelum Ramadan, pembelian baju kali ini sangat penting karena akan berkunjung ke rumah kerabat-kerabat suami. “Agar suami senang tentu istri harus memberikan penampilan terbaik saat bersilaturahmi dengan keluarganya,” kata dia, tersenyum malu. Idul Fitri kali ini ia memilih baju yang lebih feminim dan warna yang lembut. “Biar nampak cantik.”

Mumbai Textil salah satu toko kain di kawasan Pasar Aceh juga sudah tidak terlalu ramai sepekan menjelang berakhirnya bulan puasa. “Toko ini ramai sekali beberapa minggu sebelum Ramadan sampai dua minggu puasa,” ungkap Ayunia, kasir Mumbai Textil.

Kain nuansa lebaran yang dicari adalah sifon untuk baju koko dan terusan, batik untuk seragam keluarga, bahan bridal untuk baju koko. “Trennya untuk tahun ini adalah sifon diamon yang jadi primadona,” tambah Ayunia sambil memperlihatkan pelbagai jenis kain.

Grosiran yang ada di toko ini datang dari Jakarta, yang motifnya selalu diperbaharui setiap tren baru muncul. Namun sifon, renda prancis dan brokat tetap banyak peminatnya. “Di Banda Aceh termasuk banyak yang membeli kain dan pembeli selalu mencari yang terbaik dengan harga yang sesuai, terlebih buat isi talam,” sambungnya.

Selain pelbagai kain yang didatangkan dari ibukota negara, toko penyedia kain ini juga mendatangkan beberapa koleksi kain dari India. “Kerena bentuk struktur badan yang berbeda sehingga kita lebih mememilih mendatangkan kainnya,” kata Ayunia.

Khiththati/ACEHKITA.COM

Khiththati/ACEHKITA.COM

Sari India, begitu masyarakat menyebutnya, walaupun bahan ini kebanyakan dipajang dalam bentuk Silwar atau baju selutut dengan celana. Warna kain ini cerah dan lembut serta motifnya cenderung vertikal. Kain jenis ini sudah menjadi tren di Banda Aceh sejak tiga tahun yang lalu, biasanya dijual dalam bentuk bahan yang sudah dipotong atau stelan sehingga tinggal menjahitnya sesuai dengan model yang sudah dibentuk. Kain dari negeri Bollywood ini biasanya memiliki tiga bahan dasar yaitu chiffon, tile, dan sutra. “Yang paling mahal itu yang sutra bisa sampai 1,5 juta rupiah satu stelan,” cerita Ayunia.

Toko kain saat ini menjelang lebaran tak lagi ramai karena banyak pembeli yang memilih untuk membeli pakaian jadi. Kasir ini menuturkan saat-saat teramai pembeli di toko mereka bisa memperoleh penghasilan hingga Rp10 juta per harinya. “Kalau sepi seperti ini hanya tiga juta saja. Sekarang susah mencari penjahit karena pasti mereka semua sudah memeliki banyak pesanan,“ ujar Ayunia ketika ditanya sepinya pembeli.

Nora Usrina juga mengatakan hal yang sama saat ditanya pilihan baju untuk hari raya Idul Fitri tahun ini. Ia memilih membelinya daripada menjahit karena keterbatasan waktu. “Dulu waktu kecil sampai awal-awal kuliah selalu dijahit dan punya seragam keluarga. Kalau sekarang lebih enak beli jadi kayanya,” kisah anak ketiga dari empat bersaudara ini. “Kemarin saat beli ukurannya juga agak besar lengannya dan panjang, namun syukurnya si penjual juga bisa jahit kalau tidak terancam nggak jadi pakai,” tambahnya sambil tersenyum. “Kalau saya cari apa yang nyaman saja yang enak dipakai tidak begitu ikut model.”.

Tahun ini selain kain sari yang juga menjadi primadona adalah baju gamis Turki. Ciri baju ini sederhana tanpa banyak corak dan warna. Bentuknya elegan dengan warna simpel dihiasi jubah dan aksesoris sederhana. Busana satu ini banyak menghiasi pajangan manekin sepanjang toko di Pasar Aceh. Busana ini pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh Dewi Sandra saat bermain di sinetron Cacatan Hati Seorang Istri (CHSI).

Menurut Nurul, penjual baju di Lambaro, baju gamis Turki sering diminati seiring populernya sinetron Ramadan dan yang juga ngetren adalah baju gamis dan jilbab syar’i. “Kalau yang berjubah dan bahannya coat bisa sampai 450 ribu Rupiah, tapi sekarang juga sudah ada yang tidak kelihatan Turki sekali. Misalnya berbahan kaos atau yang lebih pendek,”papar Nurul.

Untuk jilbab yang lebih ngetren sekarang adalah seperti dipakai Hana (peran Dewi Sandra dalam sinetron CHSI) instan atau jilbab Fatin instan. Jilbab jenis ini sudah dikreasikan sedemikian rupa sehingga pemakai hanya butuh waktu singkat memakainya tanpa perlu membuang waktu mengikuti tutorial hijab dan sangat praktis serta hemat waktu.

“Kalau masalah warna hitam is forever tanpa melihat apapun yang telah ada di rumah memakai padanan hitam pasti cocok untuk semuanya,” ujar Nurul.

Hujan sore itu turun dengan deras namun suasana deretan toko baju di Ulee Kareng tak sepi pembeli. Toko-toko ini akan sepi selepas tengah malam. []

KHITHTHTATI[/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Continue Reading
Baca juga...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Fesyen

To Top