Connect with us

Waktunya Menendang Bokong PLN!

PLN

Kolom

Waktunya Menendang Bokong PLN!

Karena saat menulis kolom ini keadaannya gelap-gulita, saya tidak bisa meraba-raba, apakah para politikus kita di jalan Daud Beureueh punya peler, setidaknya untuk memanggil Dirut PLN Wilayah Aceh dan bertanya kenapa listrik terus-menerus mampus dalam beberapa tahun terakhir? Kalau mereka punya tangan untuk dipotong, mestinya mereka juga punya peler untuk dipertaruhkan.

Tapi kenapa harus peler Bos, bukankah itu terdengar seksis? Saya kira selama ini tidak ada cara lain untuk menarik perhatian para politikus kita, kecuali bermain-main sejenak dengan peler mereka, tapi tenanglah saya tidak akan merogolnya keras-keras, tidak juga sampai mau menjilatnya! Yuck!

Sejak krisis ini dimulai seperempat abad lalu dan terus-berulang setiap tahun, kita jarang melihat para politikus kita yang dalam hal-hal tertentu tingkat kegarangannya melebihi buaya Singkil mencoba menendang bokong para pejabat PLN; maksud saya memaksa manajemen PLN, musuh masyarakat terbesar saat ini, untuk membuka mulut; menuntut penjelasan yang bisa diterima akal sehat semua orang, kenapa bencana ini terus terjadi dan berulang?

Memang pada Agustus 2016, Wakil Ketua DPRA Irwan Djohan, sempat memanggil GM PLN Aceh, yang disebutkan “untuk membicarakan masalah kelistrikan di Aceh”. Sebuah langkah yang patut kita hargai. Namun hampir setahun lebih, kita tidak tahu hasil apa yang dicapai dari perundingan ini dan tampaknya dalam perkara ini, Irwan pun sekarang sudah mulai berbicara sendiri.

Bencana ini punya perbandingan yang sangat menyakitkan. Sebelum punah dan tinggal bangkai, lebih dari seperempat abad gas alam Arun menerangi kota-kota di Korea Selatan di malam hari dan menghangatkan penduduknya di kala musim dingin, di Aceh sendiri – tempat dari mana energi tersebut diisap lalu dikapalkan – kita bahkan tidak bisa menikmati drama Korea karena PLN cam pukimak!

PLN mungkin sudah jutaan kali meminta maaf karena pemadaman listrik, biasanya dilakukan oleh manusia-manusia yang dididik untuk menjadi seperti mesin, sehingga ketika terjadi pemadaman dan mereka lupa meminta maaf, kita menganggap bahwa mesin itu sudah lama tidak dirawat. Kata-kata seperti, perawatan fasilitas – biasanya ditambah bonus yang sangat manis: demi peningkatan pelayanan konsumen (fuvc!) – adalah dalih setiap kali terjadi pemadaman seperti sekarang.

Ketika alasan tolol ini sudah dianggap tidak bisa lagi meyakinkan konsumen, manajemen PLN menjadi agak pintar sedikit, mereka menggunakan alasan agama untuk menenangkan konsumen, mungkin mereka belajar banyak dari cara kerja politikus, yang dalam hal-hal tertentu saya pikir mereka memang bersahabat, misalnya mencurangi masyarakat.

Dalam sebulan terakhir, ketika listrik padam lebih dari 10 jam sehari, di media sosial seperti FB dan grup WA, beredar kabar bahwa pemadaman ini dilakukan untuk persiapan bulan puasa, tujuannya agar umat Islam di Aceh punya cukup energi pada saat menjalankan ibadah puasa nantinya.

Energi adalah bisnis besar dan PLN adalah toke besar. Harusnya sudah menjadi kewajiban pedagang untuk meningkatkan mutu pelayanannya, tidak peduli apakah itu bulan puasa atau bulan apam. Jadi kita mesti hati-hati kalau pedagang sudah mulai menggunakan isu agama dalam berbisnis, sama seperti politikus atau polisi, mereka pasti sedang putus asa.

Karena kita tidak memiliki acuan atau penjelasan apapun atas krisis ini, lalu masyarakat pun hanya bisa menebak-nebak. Misalnya, intel-intel Pyongyang yang berkeliaran di media sosial mengatakan, PLN regional Aceh dan Sumatera Utara kesulitan memenuhi pasokan energi kepada masyarakat, karena mereka sudah terikat kontrak dengan Setan – kelompok-kelompok bisnis dan industri. Tentu kita harus panggil mereka Setan, karena mereka sedang bersaing dengan kita dalam memperebutkan energi. Boleh jadi, PLN memilih mereka karena mereka mampu membayar lebih mahal untuk membeli energi, dibandingkan harga pembelian rumah tangga.

Kita tahu, meskipun PLN adalah BUMN yang berhubungan dengan penerangan, dibandingkan perusahaan-perusahaan negara lainnya, PLN memang cenderung lebih gelap dan rahasia. Untuk memeriksa kemungkinan kecurangan seperti inilah, kita butuh peler politikus kita, tentu saja kita semua gembira kalau mereka bisa menggunakannya untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, misalnya meminta PLN menunjukkan persentase perbandingan berapa daya yang disalurkan kepada masyarakat dan berapa untuk pelaku bisnis dan industri. Dan bukan hanya itu saya kira, tapi terutama bagaimana pembagian itu dilakukan.

Kalau hal ini misalnya tidak mungkin, karena alasan tidak diatur undang-undang, kita tidak mau tahu, pokoknya harus bisa, demi 1 triliun yang telah mereka rebut dari kita (jari tengah sekali lagi untuk ketamakan yang tidak bisa ditutup-tutupi ini!); demi bayi-bayi Aceh yang menjerit kepanasan dan tidur dalam keadaan tanpa penerangan yang memadai dalam bulan-bulan ini, sebab dengan cara inilah kita bisa menendang bokong PLN yang telah membuat kita sengsara dan gila selama bertahun-tahun! Sebab bila tidak, pilihan lain untuk politikus kita jauh lebih buruk, belilah kursi roda dari dana aspirasi untuk menopang peler kalian!

Mari kita lihat, apakah selama bulan puasa juga akan terjadi pemadaman, kalau itu terjadi saya ikut kata Abon Taleb, “Kalau Mualem kalah, perdamaian di Aceh tidak akan selamat”.

Ulama karismatik kita yang satu itu benar belaka, kita memang bukan hanya tidak akan selamat tapi juga sesat, karena urusan kelangkaan listrik ini bukan hanya soal hidup dan mati lampu. Kelangkaan energi harus dipandang sebagai bencana, sama halnya seperti ancaman kelaparan, pembunuhan massal, perang nuklir, wabah penyakit dan kerusakan lingkungan, yang di masa mendatang jika krisis ini tidak pernah bisa ditanggulangi berakibat sangat mengerikan bagi kualitas hidup manusia di Aceh.

Bagaimanapun ketersedian energi yang memadai adalah kunci terpenuhinya standar hidup layak, seperti meningkatnya kualitas pendidikan dan kesehatan, sebagai salah satu syarat yang oleh para ahli pembangunan diyakini bisa menekan ambang batas rata-rata kemiskinan, kemiskinan yang dalam satu dekade terakhir terus menghantui Aceh.

Bagaimana krisis energi ini bekerja dalam kehidupan sehari-hari dan perlahan-lahan menjelma menjadi bencana, tadi siang saat mati lampu dan ingin mencukur janggut di tukang pangkas langganan, saya melihat sebuah isyarat yang sangat mengerikan. Begitu melihat saya turun dari motor, si tukang pangkas langganan tidak menghadiahkan saya senyum seperti biasanya, sebaliknya dia memegang kepalanya.

Baru-baru ini, kita terkejut (atau mungkin tertawa) mendapati bahwa jumlah penderita gangguan jiwa di Aceh mencapai 22.033 jiwa, terutama yang berumur produktif. Meskipun penyebab gangguan jiwa ini bisa berbagai macam, tapi kelangkaan energi jelas merupakan salah satu variabel yang bisa mempengaruhi, jika bukan menentukan. Angka ini tertinggi nasional. Itu berarti, kalau kau menonton konser Apache13 bersama 9999 penonton lain, harus hati-hati karena ada 10 orang gila yang ikut berjoget! []

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom

To Top