Welcome to India

0
892
Welcome to India
Perempuan India. Foto-foto: Shiti Maghfira

SAAT menyebut India, maka langsung terlintas di kepala adalah fantasi Bollywood yang menakjubkan dengan warna-warni sari, tari-tarian dan lagu India yang menghentak dan penuh cinta. Lalu, ada kisah romantik tentang Taj Mahal di Agra, sebuah bangunan menyerupai masjid yang sebenarnya merupakan sebuah makam. Konon, dibangun sebagai persembahan cinta Shah Jahan untuk permaisurinya, Mumtaz Mahal.

Fantasi ini membawa orang beramai-ramai pergi ke India. Mereka rela melakukan perjalanan jauh untuk melihat atau menemukan sesuatu yang tidak mereka temukan pada kehidupan mereka yang sebenarnya.

INDIA, biasa orang menyebutnya dengan I Never Do It Again. India bisa membuat orang cinta secinta-cintanya, bisa pula membuat orang benci dan tak ingin kembali lagi. Dan, India membuatku benci sebenci-bencinya, tapi pada akhirnya malah membuatku cinta secinta-cintanya.

Ketika tiba di India pada pertengahan Mei 2018, fantasi Bollywood benar-benar memang hanya sebatas di layar kaca. Fantasi itu tenggelam dalam kebisingan kendaraan yang terus menerus membunyikan klakson bersahut-sahutan tanpa henti di sepanjang jalan. Seolah ini menjadi sesuatu yang memang harus dilakukan dalam berkendara. Di awal kedatangan, hal ini memang sedikit menjengkelkan dan memekakkan telinga. Ketika dijalani, raungan kendaraan itu justru menjadi sound of nature, dan kita terpaksa harus menikmatinya.

Pemandangan para lelaki yang membuang hajat di pinggir jalan atau di balik kereta yang sedang parkir menjadi hal lumrah, menjadi kebiasaan sehari-hari masyarakat di negeri ini. Aroma urine mengering seperti toilet yang tak pernah disiram terpancar dari trotoar, tembok, gang, sudut jalan yang dilalui. Untuk menghindari hal ini, tembok harus dilukis dengan gambar dewa dewi.

Kita mungkin terbiasa melihat foto-foto yang beredar di media sosial, memperlihatkan sebuah mobil disesaki penuh oleh beberapa orang yang sebenarnya telah melebihi kapasitas jumlah penumpang, atau sepeda motor yang biasanya untuk dua orang dewasa dan satu anak kecil, tapi di India dinaiki empat bahkan lima orang dewasa, dan mereka merasa cukup nyaman duduk di atasnya. Pemandangan begini sudah menjadi hal biasa di jalanan India.

Di India, begitu keluar dari penginapan, berjalan seratus meter saja, berarti kita harus siap untuk ditanyai orang yang menawarkan jasa tuk-tuk (seperti bajaj), pemandu, travel, mobil, bus, tanpa semenit pun terlewatkan. Walaupun telah berkata “no, thanks”, tapi tetap saja mereka terus mencoba tanpa henti sampai kita memutuskan sesuatu.

Ada pula yang menawarkan jasa tuk-tuk dengan harga yang tak pernah terbayangkan, “just pay me ten rupees for one hour,” (kamu hanya perlu membayar saya sepuluh rupee untuk satu jam). Siapa yang akan mengira demikian? Siapa pula yang tega menolak jika seperti ini? Sepuluh rupee India sama dengan sekitar dua ribu rupiah Indonesia.

Berada di atas tuk-tuk menuju suatu tempat, bukan berarti bisa duduk tenang menikmati jalanan. Ada lagi kisah ruwet yang terus berulang, yaitu diajak berputar ke lusinan toko-toko suvenir tempat teman mereka berjualan. Tak apa jika tak membeli tapi lihat saja dulu. Ada pula ajakan ke tempat lain dahulu sebelum tempat tujuan kita. Bagi kita yang pertama kali ke India, ajakan yang sedikit memaksa itu bikin kesal. Tapi beginilah laku di negeri anak benua ini.

Rumah-rumah mereka tak sepenuhnya seperti apa yang kita lihat di film-film. Di lapangan luas, rumah-rumah mereka beratapkan terpal hitam beralaskan tanah pasir. Tak ada pintu, semua terbuka. Tak ada toilet yang layak, hanya toilet umum yang penuh sampah dan beraroma. Cuaca cerah sampai terlalu panas hingga 42 derajat celcius. Kadang mendung, badai datang, semua yang disentuh, berdebu.

Selama dua minggu saya di sana, apa yang disuguhkan dalam film Bollywood, tak mengambarkan keseluruhan India. Itu hanya bisa ditemui di satu kota saja, Mumbai. Berjarak sekitar belasan jam dari New Delhi menggunakan kereta api. New Delhi dan Agra tempat Taj Mahal, dua tempat yang cukup terkenal, ataupun Jaipur yang disebut sebagai Pink City, bukanlah tempat seperti yang tergambarkan dalam film.

Di satu sisi, mereka begitu tertinggal dibandingkan kita. Mereka perlu pembangunan dan modernisasi. Terlepas dari itu semua, India punya sisi menarik tersendiri. Perempuan-perempuan yang saban hari memakai sari, berlalu-lalang berjalan kaki di pinggir jalan, entah itu berbelanja, berjualan, atau melakukan sesuatu. Bahkan bekerja sebagai buruh tukang pengangkut bata atau pengaduk semen pun perempuan tetap memakai sari.

India juga memiliki gaya arsitektur yang memanjakan mata. Banyak bangunan didominasi warna pink kemerahan. Acara-acara di malam hari disertai dengan tarian dan nyanyian digelar secara meriah. Cara mereka berinteraksi satu sama lain juga sopan dan tak seperti terlihat di dalam film. Tak ada kata makian, hanya gelengan kepala tanda maaf walaupun tuk-tuk mereka tak sengaja saling kena. Cara anak-anak bermain di pinggir jalan dengan balutan debu ataupun halaman rumah yang bisa sedikit kita lihat jika pintu terbuka.

Lanskap manusia yang mengayuh sampan di sungai tepat di belakang Taj Mahal, menunjukkan kalau India masih menyimpan sisi manisnya. Tak melulu soal kesemrautan dan ketidakteraturan.

Di sini, di India, kita bisa menemukan dinamika sosial dan budaya yang tak pernah kita rasakan di tempat kita. India memiliki cerita yang berwarna nyentrik dalam lipatan sari-nya, meriah dalam warna-warni festival holi, unik dalam beragam khasnya budaya mereka. Akan menjadi pengalaman menarik kalau kita dapat merasakan atmosfer negeri yang terkenal dengan sungai Gangga ini. India, rupanya tetap memiliki sudut-sudut yang istimewa.

Tiap negara, sejatinya memiliki nilai tersendiri. Terlepas dari maju dan tidak majunya sebuah negara. Lanskap, cerita, dan atmosfer yang disajikan pasti memiliki khas yang tak bisa kita jumpai dalam kehidupan kita sesungguhnya. Dan, India yang mulanya membuat saya tak ingin datang lagi, akhirnya menenggelamkan saya dalam lumpur cinta![]

Shiti Maghfira, pengajar Bahasa Jepang di Kougetsu School Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.