Connect with us

Agar TransKutaraja (tak) Gagal

TransKutaraja

Kolom Fakhrurradzie Gade

Agar TransKutaraja (tak) Gagal

Walaupun sempat kecewa dengan wujud TransKutaraja yang tidak ada bedanya dengan TransPadang, TransYogya, dan aneka Trans- lainnya, kehadiran kembali angkutan publik (massal) di Kota Banda Aceh sedikit menghibur. Bahkan kehadiran itu mulai menyemai harapan baru saat melihat antusiasme sebagian warga dalam menggunakan angkutan umum ini.

Namun apakah antusiasme itu akan bertahan? Dan yang lebih penting, akankah penggunanya terus bertambah? Ada yang menduga, misalnya, antusiasme ini hanya akan bertahan sementara selama TransKutaraja masih gratis. Setelah itu?

TransKutaraja atau TransK yang beroperasi sejak pertengahan tahun 2016 sebenarnya sudah menuai kritik sejak awal kehadirannya. Para ahli transportasi dan tata kota di Unsyiah, misalnya, sudah mengusulkan model bus dan halte yang lebih sesuai dengan profil Kota Banda Aceh sebagai Kota Budaya dan Bersejarah.

Bus berlantai rendah (low deck) dianggap lebih pas untuk Banda Aceh ketimbang bus berlantai tinggi (high deck) seperti yang beroperasi sekarang. Halte dan tempat perhentian bus tentu juga akan berbeda dari yang kita lihat saat ini, jika bus berlantai rendah yang dipilih. Model bus usulan awal dari Unsyiah bahkan bisa merunduk untuk penumpang anak dan lansia, sehingga para muda dan sepuh kita tidak harus takut ketinggian halte dan bus yang sekarang dirasakan begitu mengintimidasi.

Khabarnya, para perencana dan pengambil kebijakan di dinas terkait pada level provinsi maupun kota sepakat dengan konsep yang ditawarkan para ahli Unsyiah. Tapi, khabarnya juga, mereka tak kuasa menolak keputusan Kementrian Perhubungan di Jakarta sana yang sudah punya konsep bahkan sudah membeli busnya! Konsep yang kelihatannya dipaksakan untuk semua kota yang ingin memiliki transportasi publik sejenis.

Hasilnya? Jangan kaget jika merek, bentuk, bahkan sampai citra dan warna dominan bus yang kini biasa Anda lihat lalu-lalang di Kota Banda Aceh akan juga terlihat di Jakarta dan kota-kota lainnya yang menerapkan pola yang sama. Dengan alasan efisiensi, terlihat jelas ada usaha memaksakan economy of scale dengan cara membeli bus secara borongan, dalam jumlah yang sangat besar, bukan hanya untuk satu-dua kota, tapi kalau bisa seluruh kota di Indonesia!

Mungkin tidak masalah jika efisiensi itu demi penghematan anggaran negara (uang rakyat!) yang kemudian bisa dipakai untuk menambah layanan lainnya, termasuk jumlah armada yang lebih besar. Tapi kalau borongan itu karena kepentingan mafia pengadaan bus kota? Tentu rasa keadilan bahkan hukum telah dilanggar dengan semena-mena.

Lantas bagaimana sekarang? Suka tidak suka, TransKutaraja toh sudah beroperasi. Sebagai orang yang optimis-positif, saya menganjurkan untuk memanfaatkan yang sudah ada. Let’s make the best out of what we already have. Kita semua perlu berpikir dan bekerja untuk ikut memastikan TransK tidak gagal setelah beroperasi setahun-dua.

Agar TransKutaraja (tak) Gagal

Walaupun sudah mengecewakan sebagian warga kota yang punya imajinasi lebih serius tentang wujud TransK, sebagian besar pengguna bus umum ini tampak cukup puas dengan layanan yang sudah ada. Bus nyaman berpendingin dengan selang antar bus yang tak begitu lama, diharapkan setiap 15 menit pada setiap halte, jelas sebuah perbaikan dari layanan bus kota sebelumnya yang pernah dikenal warga Kota Banda Aceh. Apalagi sampai saat ini masih gratis!

Tapi saya yakin itu saja tidak cukup. Perlu dipikirkan agar ridership, jumlah pengguna TransK, tetap tinggi bahkan meningkat. Tantangan pertama akan muncul saat layanan gratis yang memang direncanakan sementara itu berakhir. Kemungkinan besar jumlah pengguna akan menurun.

Tapi jumlah pengguna yang tetap sama alias tidak meningkatpun adalah indikasi kegagalan transportasi publik kita ini. Salah satu tujuan transportasi publik seperti TransK adalah agar semakin banyak pengguna kenderaan pribadi, mobil maupun sepeda motor, beralih ke TransK. Dengan begitu, kemacetan dan masalah lainnya bisa dikurangi hingga ke titik minimal. Kalau tidak, maka Kota Banda Aceh akan makin menjadi Republik Scooter dengan ragam ilusi yang penuh masalah itu.

Jadi bagaimana agar TransK tak gagal?

Pertama, rute TransKutaraja perlu segera ditambah untuk menjangkau wilayah dan calon penumpang yang lebih luas. Rencana tambahan rute dari Bandara SIM melewati pusat kota hingga ke Pelabukan Uleelheu perlu segera diwujudkan sebagai bagian dari usaha menyambung layanan transportasi multi-moda udara-darat-laut. Tapi penambahan rute lain yang lebih banyak melayani rakyat umum adalah sangat urgen kalau tidak lebih mendesak dari rute yang mungkin hanya melayani turis dan pelancong yang datang ke Banda Aceh melalui bandara itu.

Kedua, penambahan armada harus dipastikan sejak sekarang sehingga penambahan rute tidak mengganggu layanan pada rute yang sudah lebih dulu beroperasi. Jangan sampai pengguna layanan di rute lama kecewa gara-gara layanan yang menurun. Kekecewaan bisa segera menurunkan ridership di kalangan yang belum begitu loyal dan sadar akan pentingnya transportasi publik. Karena itu, jika tambahan armada dari pusat terbatas maka Aceh bila perlu mennggunakan dana otsusnya demi memastikan layanan TransK tetap terjaga.

Ketiga, berkaitan dengan kedua argumen di atas, TransK harus dipandang sejak awal sebagai angkutan massal dan menuju transportasi rapid (cepat, segera). Konsep mass-rapid-transportation harus dianut sejak dini dan bervisi jangka panjang. Kalau tidak, Banda Aceh akan segera menjadi kota monster seperti kota-kota lain di Indonesia. Karena instrusi kenderaan pribadi yang sangat agresif dari rakyat yang dipaksa mencari solusi transportasi masing-masing oleh negara yang gagal hadir untuk mereka.

Bukan hanya karena ini memang konsep transportasi publik perkotaan, tapi ia juga menyangkut psyche orang Aceh yang tak suka cilet-cilet. Yang tanggung-tanggung dan terlihat meragukan bisa dipeuphep, dipandang rendah, dilecehkan oleh orang Aceh. Konon warga Kota Banda Aceh mau naik labi-labi, becak, bus antar kota, hingga pesawat saja masih milih-milih. Kalau becaknya kelihatan tak terawat maka penumpang cenderung menghindar. Bus antar kota di Aceh adalah salah satu yang termewah di Indonesia. Yang kurang grand miskin penumpang.

Jadi kalau kita mau menghadirkan transportasi publik yang bagus dan menarik warga menggunakannya, maka kita harus serius. TransK harus serius! Sejauh ini, selain mungkin karena gratis, pengguna TransK senang dengan bus yang masih baru, bersih, dingin dan nyaman. Tapi begitu bus menua, halte makin dekil, apalagi sudah tidak gratis, maka pengguna bisa dengan mudah meninggalkan TransK.

Keempat, konektivitas dan kenyamanan transfer untuk pengguna TransK harus segera diwujudkan. Jika penduduk yang ada di berbagai sudut Kota Banda Aceh (dan Aceh Besar) dengan mudah terhubung ke rute-rute TransK, maka harapan menambah jumlah pengguna yang meninggalkan angkutan pribadi dan beralih ke TransK akan makin besar.

Kita tidak bisa berharap warga menggunakan TransK jika hanya sebagian kebutuhannya saja yang terkoneksi dengan layanan TransK dan sebagian lainnya masih harus pakai kenderaan pribadi. Karena itu TransK harus hadir sedekat mungkin dengan pintu rumah warga Banda Aceh dan bisa mengantarkan mereka sedekat mungkin dengan pintu dan gerbang sekolah, pasar, dan kantor tempat kerja mereka. Konektivitas asal dan tujuan, konektivitas antar-moda, dan konektivitas antar-rute harus diusahakan segera dan sekaligus.

Kelima, TransK harus jelas tata kelola dan pengelolanya. TransK perlu segera menjadi entitas yang jelas dan profesional. Apakah perlu bentuk badan usaha bisnis seperti PT, koperasi, BUMD, atau sejenis badan otorita khusus yang meliputi wilayah Aceh Besar dan Banda Aceh. Sejauh ini, masih ada tolak-tarik dan ketidakjelasan karena sebagian bus dan halte dialokasikan dari kementrian, wilayahnya ada di Banda Aceh dan Aceh Besar, pengelolaanya masih di pemerintah provinsi, operatornya pihak ketiga yang sang serius sang han.

Kalau kelima hal itu dilakukan, kita bisa berharap TransK tidak gagal bahkan bisa berkembang. Kalau dana dari pusat terbatas, dana Aceh, khususnya Dana Otsus sangat layak untuk digelontorkan buat pelayanan yang akan dinikmati banyak orang dari wilayah yang lebih luas seperti TransK ini. Bahkan lebih layak dari jembatan fly-over dan laluan under-pass yang menyita ratusan milyar di satu dua titik saja. Apalagi proyek ini hanya akan mengurangi sedikit kemacetan sementara saja. Untuk jangka panjang, transportasi publiklah jawabannya.

Karena dengan transportasi publik, justru proyek jalan dan jembatan yang mahal-mahal itu bisa dikurangi bahkan ditiadakan. Belum lagi ekonomi yang lebih efisien dan produktif dengan berkurangnya kebutuhan akan kenderaan pribadi yang membuat orang makin egois dan kasar di jalan.

Itu semua dengan catatan, membangun transportasi publik itu harus serius, grand (mega dan megah) dan dalam tempo singkat secara menyeluruh (integrated) sekaligus.  Namanya juga angkutan massal dan cepat, mass-rapid-transportation. Bek cilet-cilet!

*Saiful Mahdi adalah Dosen Statistika FMIPA Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh; Peneliti Senior di ICAIOS. Menulis “Kolom Fakhrurradzie Gade” di AcehKita.com setiap Kamis. Isi tulisan adalah pandangan pribadi Email: saiful.mahdi@fmipa.unsyiah.ac.id

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Kampus & TransKutaraja | ACEHKITA.COM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Kolom Fakhrurradzie Gade

To Top